azhar mesirYang akan disampaikan berikut ini adalah informasi sebenar-benarnya tentang Universitas Al-Azhar. Substansi dalam artikel ini dipaparkan atas arahan Sekjen Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional (IAAI) Indonesia. Artikel ini ditulis untuk menjawab banyaknya pertanyaan oleh calon mahasiswa baru yang berminat menimba ilmu di Al-Azhar akan tetapi hanya menerima informasi setengah-setengah.


***


Pendahuluan
Siapa yang tidak mengenal kebesaran nama Al-Azhar. Lembaga pendidikan Islam yang telah ada sejak 11 abad silam ini berada di negeri kinanah, Mesir. Orang menyebutnya sebagai negeri para nabi, negeri dimana Nabi Musa dilahirkan, dan negeri dimana Nabi Yusuf menjadi kunci era kemakmurannya. Siapapun yang menimba ilmu di Al-Azhar, maka ia tidak hanya belajar khazanah keilmuan Islam, akan tetapi ia juga berkesempatan mempelajari dan menyaksikan langsung peradaban dunia.

Sebutan sebagai Qiblat-nya (red:rujukan) keilmuan dunia Islam, bukanlah tanpa alasan. Al-Azhar merupakan mesin pencetak ulama-ulama terbaik sepanjang masa dengan ratusan ribu alumni-alumninya yang tersebar dan berkiprah di seluruh dunia. Setiap tahunnya ribuan mahasiswa muslim dari penjuru dunia datang ke Mesir untuk menjadi Azhary (keluarga besar Al-Azhar).

Manhaj Islam Moderat
Salah satu faktor utama yang menjadikan Al-Azhar sebagai universitas Islam dunia terfavorit bagi generasi muda Islam ialah manhaj dakwahnya, Wasathiyya Islam (Islam moderat). Dengan manhaj ini Al-Azhar dan Azhary menempatkan dirinya sebagai penengah atas konflik horizontal yang terjadi di dalam internal dunia Islam, yaitu antara kelompok Liberal dan Radikal (ekstrimisme). Al-Azhar dengan pemahamannya yang terbuka telah memberikan ruang bagi terciptanya kesatuan antar umat Islam dan dengan umat agama lainnya tanpa kekerasan dan tanpa menggadaikan akidah.

Khazanah Terbuka
Al-Azhar tidak membatasi atau bahkan melarang mahasiswanya untuk mempelajari keilmuan tertentu. Hal ini berbeda dengan apa yang diberlakukan oleh lembaga pendidikan Islam lainnya di jazirah Arab lainnya seperti Jordania, Madinah, dan Yaman, dimana kebebasan mahasiswanya/siswanya sangat dibatasi. Alih-alih mempelajarinya, buku-buku dan sumber pengetahuan lainnya yang tidak sejalan dengan kebijakan madrasah tidak tersedia di toko-toko buku, bahkan dilarang masuk ke negera tersebut.

Kebijakan Al-Azhar dan pemerintah Mesir yang terbuka atas khazanah yanga da sangat diperlukan bagi generasi Islam saat ini. Dengan kebebasan mempelajari keragaman khazanah Islam, pemikiran mahasiswa terhadap dunia Islam pun menjadi terbuka, sehingga dapat menghomati keragaman umat yang telah ada sejak agama Islam lahir. Namun meskipun begitu, Al-Azhar tetap mengarahkan anak didiknya dengan diktat yang telah ditetapkan setiap tahunnya. Al-Azhar juga mengingatkan mahasiswanya untuk mencerna dan menelaah apa-apa yang telah mereka pelajari, mereka baca, serta memilah dan memilih mana yang baik dan tepat untuk disampaikan dan diaplikasikan kepada umatnya di negara masing-masing.

Beasiswa
Salah satu poin utama yang menjadikan Al-Azhar sebagai tujuan belajar terfavorit ialah ketersediaan beasiswa (minhah) yang tidak terbatas. Jenis-jenis beasiswa yang dapat diperoleh di Al-Azhar adalah sebagai berikut:

  1. Bebas biaya kuliah. Al-Azhar memberikan beasiswa berupa biaya kuliah gratis bagi setiap mahasiswanya hingga selesai masa studi. Mahasiswa Al-Azhar hanya perlu mengeluarkan biaya untuk membeli kelengkapan kuliah, seperti pembuatan kartu mahasiswa dan kitab-kitab diktat kuliah yang harganya terjangkau.
  2. Uang Saku. Disamping biaya kuliah, Al-Azhar juga memberikan minhah berupa "uang saku" yang nilainya sekitar Rp.640.000-Rp.850.000,- per bulannya. Uang saku ini hanya diberikan kepada mahasiswa/i yang berhasil naik kelas/tingkat pada tahun pertama, dan yang bersangkutan mengajukan dirinya untuk mendapatkan minhah tersebut.
  3. Asrama Mahasiswa. Disamping biaya kuliah dan uang sakut, Al-Azhar juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa/i-nya untuk tinggal di Asrama Bu'uts Al-Islamiyyah. Mahasiswa/i yang tinggal di asrama ini juga mendapatkan gratis makan tiga kali sehari. Untuk dapat tinggal di Asrama mahasiswa ini harus memperoleh minhah (uang saku) di atas dan mengajukan dirinya (mendaftar).

Semua mahasiswa/i memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk mendapatkan ketiga jenis beasiswa dari Universitas Al-Azhar asal memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Selain dari Al-Azhar, mahasiswa/i juga dapat memperoleh beasiswa dari lembaga lain, seperti Bayt Zakat yang nominal beasiswa jauh lebih besar. Berbeda dengan Al-Azhar, Bayt Zakat hanya memberikan minhahnya kepada mahasiswa yang berprestasi. Semakin bagus prestasinya, semakin besar nominal minhah yang diterima.

Rumah Daerah dan Asrama Indonesia
Berdasarkan data Atase Pendidikan dan Kebudayaan Cairo tahun 2014, jumlah mahasiswa/i AL-Azhar yang berasal dari Indonesia berjumlah 3995. Jumlah mahasiswa sebanyak itu terdiri datang dari berbagai daerah, afiliasi dan sekolah di seluruh Indonesia. Beberapa pemerintah daerah yang memiliki putra-putri daerah cukup besar di Mesir mendirikan Rumah Daerah masing-masing. Rumah-rumah daerah ini berfungsi sebagai meeting point, pusat aktifitas mahasiswa berdasarkan asal daerah masing-masing. Selain itu, beberapa daerah seperti sumatera Barat, dan Kalimantan Timur, serta Dompet Dhuafa memiliki asrama khusus bagi mahasiswa baru dan mahasiswa kurang mampu.

Selain rumah-rumah daerah yang terlebih dulu ada, Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Mesir saat ini sedang menggarap proyek pembangunan 18 gedung asrama mahasiswa Indonesia senilai 148 miliyar rupiah. Masing-masing gedung dapat menampung 340 mahasiswa. Pada Mei 2014 lalu, 4 gedung asrama dan 1 gedung dapur umum telah rampung dan diresmikan oleh Presiden RI. Dengan keberadaan asrama ini, nantinya mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir tidak perlu lagi menyewa apartemen/tempat tinggal.

asrama mesir

Biaya dan Lingkungan Hidup
Dari segi biaya dan lingkungan, antara Indonesia dan Mesir tidak banyak memiliki perbedaan. Biaya hidup di Mesir hampir sama atau bahkan lebih terjangkau dibandingkan biaya hidup di kota-kota besar (kota-kota pendidikan) seperti, Malang, Yogyakarta, Surabaya, Bandung apalagi Jakarta. Biaya hidup di Mesir kurang lebih 1 juta rupiah, tergantung gaya hidup masing-masing Mahasiswa. Nominal tersebut sudah meliputi sewa apartemen/tempat tinggal, makan, transportasi ke kuliah, tabungan untuk membeli diktat kuliah setiap awal tahun ajaran, dan biaya komunikasi ke keluarga di Indonesia. Begitupun dengan lingkungan hidupnya. Rakyat Mesir sangat welcome dengan keberadaan mahasiswa asing khususnya dari Indonesia. Sehingga mahasiswa baru dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya dengan mudah.

BAGAIMANA PROSEDUR PENDAFTARAN KE UNIVERSITAS AL-AZHAR ?

Tahun 2006, Dirjen Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kemenag RI menandatangani MoU dengan Al-Azhar. Salah satu isi dari MoU tersebut adalah tentang penyelenggaraan seleksi bagi calon mahasiswa baru universitas Al-Azhar. Penyelenggaraan seleksi ini merupakan respon terkait semakin menurunnya kualitas mahasiswa asal Indonesia di Universitas Al-Azhar.

Pada tahun 2005 saja, jumlah mahasiswa baru Al-Azhar asal Indonesia mencapai 1000 mahasiswa. Minat yang sangat besar tersebut tidak dibarengi dengan kualitas. Mayoritas mahasiswa baru yang berangkat ke Mesir tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk belajar di Al-Azhar, dalam artian tidak mampu/tidak siap secara bahasa dan lemah secara hafalan. Sehingga besarnya minat ini justru menjadi masalah bagi pihak-pihak yang berwenang dan bertanggung jawab atas keberadaannya di Mesir. Masalah lainnya yang timbul, mudahnya mahasiswa baru datang ke Mesir saat itu banyak dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk menyelundupkan TKI ilegal ke Mesir dengan menggunakan visa pelajar.

Berdasar latar belakang diatas, sejak tahun 2006 setiap calon mahasiswa baru yang berminat untuk melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar harus mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru Al-Azhar di Indonesia. Seleksi tersebut harus diikuti baik oleh calon mahasiswa yang menginginkan beasiswa penuh, maupun oleh calon mahasiswa yang memilih jalur beasiswa mandiri. Berikut penjelasannya;

1. Beasiswa Penuh
Yang dimaksud sebagai Mahasiswa penerima beasiswa penuh adalah mereka yang mendapatkan tempat tinggal dan makan di Asrama Al-Azhar, dan berhak atas uang saku sebesar EGP.400 atau setara Rp.640.000,- setiap bulannya dari Univeristas Al-Azhar sejak bulan pertama masa perkuliahannya. Mereka juga mendapatkan tiket kembali ke Indonesia saat masa studi telah usai.

Prosedur untuk mendapatkan beasiswa penuh tahun ini telah berubah. Pada beberapa tahun sebelumnya beasiswa ini dikelola langsung oleh Diktis Kemenag RI. Kemenag menyelenggarakan seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru Al-Azhar setiap tahunnya bagi setiap calon mahasiswa yang berminat melanjutkan studi ke di Universitas Al-Azhar. Peserta dengan nilai tertinggi berhak atas beasiswa penuh yang dimaksud. Dahulu Jumlah beasiswa ini mencapai 100 untuk mahasiswa asal Indonesia, namun pada 4 tahun terakhir hanya menyisakan 20 kuota mahasiswa penerima. Tahun ini (2014), 20 mahasiswa penerima beasiswa penuh ini dikelola langsung oleh kedutaan Mesir di Jakarta. Meskipun nama-nama-nama penerima sebagian besar diambil dari peserta seleksi penerimaan mahasiswa baru yang diadakan oleh Diktis, akan tetapi kedutaan Mesir memiliki kriteria sendiri kepada siapa yang berhak.

2. Beasiswa Jalur Mandiri
Bagi calon mahasiswa Al-Azhar yang tidak mendapatkan beasiswa kategori beasiswa penuh tetap mendapatkan beasiswa berupa biaya kuliah selama menempuh pendidikan di universitas. Satu hal harus diingat bahwa mereka harus tetap lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru di Indonesia. Dengan diadakannya seleksi, pemerintah hanya memberikan izin kepada calon mahasiswa baru yang memiliki kompetensi/kwalitas yang cukup untuk mendaftarkan diri ke Al-Azhar dengan menanggung biaya hidupnya sendiri selama masa studi berlangsung. Mahasiswa yang berangkat ke Mesir dalam kategori ini juga berhak mendapatkan beasiswa penuh sebagaimana kategori di atas. Bedanya mereka baru dapat mengajukan diri/mendaftar sebagai penerima beasiswa penuh setelah hasil ujian kelas satu/tahun pertama diumumkan, dan yang bersangkutan berhasil naik kelas/naik tingkat.

PERAN DAN POSISI IAAI INDONESIA

IAAI Indonesia sebenarnya telah terlibat dalam seleksi mahasiswa baru Al-Azhar sejak tahun 2006. Akan tetapi keterlibatannya belum dikukuhkan secara lembaga. Keterlibatan IAAI masih sebatas perorangan yang menjadi pakar ahli penyelenggaraan seleksi, baik perumus soal, penguji, maupun penilai hasil seleksi. Keterlibatan IAAI secara lembaga dimulai sejak angkatan didik baru tahun 2011, atau satu tahun setelah IAAI Indonesia secara lembaga/organisasi diresmikan oleh Rabithah al-'alamiyyah li khirij al-Azhar Cairo. Sejak tahun 2011 inilah, keterlibatan IAAI Indonesia tidak hanya sebatas menyiapkan substansi seleksi, akan tetapi bertindak sebagai lembaga resmi Al-Azhar untuk menerima dan mengelola pemberkasan pendaftaran ke universitas.

Kehadiran IAAI secara resmi tidak terlepas dari masih adanya beberapa persoalan yang belum benar-benar terpecahkan terkait calon mahasiswa baru pada setiap tahunnya.

Menertibkan Mediator Nakal
Mediator atau juga sering disebut sebagai mediator merupakan lembaga atau perorangan yang membantu mengumpulkan berkas-berkas calon-calon mahasiswa baru yang lulus seleksi. Sebelum IAAI Indonesia dibentuk, berkas-berkas mahasiswa tersebut dikirim atau dititipkan oleh mediator untuk diserahkan kepada Komite Pelaksana Pendaftaran Mahasiswa Baru (KPP MABA) yang dibentuk oleh Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir (PPMI).

Sebenarnya mayoritas mediator-mediator yang ada adalah alumni-alumni Al-Azhar yang memang tulus membantu adik-adiknya berangkat dan mendaftarkan diri ke Mesir. Sebagai penyedia jasa, mediator-lah yang sebelumnya menguruskan visa ke Kedutaan Mesir di Jakarta, dan mengatur jadwal keberangkatan mahasiswa baru. Disinilah persoalan muncul, tidak sedikit dari mediator-mediator yang motif utamanya adalah bisnis daripada niat membantu adik-adik kelasnya. Banyak mediator yang mematok tarif tinggi atas jasa yang mereka lakukan, bahkan tidak sedikit yang cenderung memeras calon mahasiswa. Mediator-mediator yang jumlah tidak sedikit ini membuat kelompok-kelompok yang tidak dapat dikontrol kinerjanya, sehingga menimbulkan berbagai macam persoalan.

Persoalan di atas segera ditertibkan setelah Panitia Pemberkasan IAAI Indonesia dibentuk pada tahun 2011. Masing-masing calon mahasiswa tidak lagi memerlukan jasa mediator, karena mahasiswa baru yang telah lulus seleksi bisa datang dan menyerahkan berkasnya secara langsung di kantor IAAI Indonesia. Namun IAAI Indonesia secara resmi tidak bisa menghapuskan keberadaan dan peran mediator, dan lebih memilih untuk menyebut mereka sebagai mitra IAAI. Misi IAAI dalam hal ini lebih untuk menertibkan para mediator, khususnya mediator nakal dibanding untuk memberangusnya. Calon mahasiswa diberikan kebebasan oleh IAAI untuk menyerahkan berkas secara langsung ke kantor IAAI Indonesia atau dapat melalui mediator dengan konsekwensi dikenakan tarif lebih atas jasa pengurusannya. Berkas-berkas yang dikumpulkan oleh mediator pun tetap diserahkan kepada IAAI Indonesia.

Dengan beradaan IAAI Indonesia, kerja mediator sangat ringan. Mediator hanya melakukan pengumpulan berkas dan menyerahkannya ke kantor IAAI dan membelikan tiket keberangkatan mahasiswa ke Cairo setelah visa diserahkan oleh IAAI. Atas dasar ringannya jasa yang mereka lakukan inilah, IAAI sangat mewanti-wanti para mediator untuk tidak memasang tarif tinggi kepada calon mahasiswa atas jasa yang mereka kerjakan. Untuk tahun 2014 ini, biaya pemberkasan yang diserahkan IAAI Indonesia sebesar Rp. 1.850.000,- dan USD, 250 (setara Rp.3.000.000,-), sehingga jumlah keseluruhan berjumlah Rp. 4.850.000,-. Selain biaya ini, mahasiswa baru hanya akan mengeluarkan biaya tiket keberangkatannya ke Mesir.

Visa di Kedutaan Mesir di Jakarta
Salah satu persoalan yang muncul sebelum kehadiran IAAI Indonesia adalah keterlambatan keberangkatan ke Mesir. Idealnya setiap calon mahasiswa baru sudah berada di Mesir paling lambat akhir bulan Oktober, karena pada bulan Januari mereka sudah harus mengikuti ujian semester pertama. Akar dari persoalan ini adalah visa masuk Mesir yang tidak kunjung diberikan oleh Kedutaan Mesir di Jakarta. Bahkan pada tahun 2008, kedutaan Mesir baru mengeluarkan visa pada tahun berikutnya.

Kehadiran IAAI Indonesia pada tahun 2011 segera disambut baik oleh kedutaan Mesir di Jakarta. Sebanyak 142 visa yang diajukan oleh IAAI Indonesia selesai dalam kurun waktu 2 minggu. Hal ini disebabkan adanya mutual trust antara kedua lembaga resmi ini. Dalam hal ini Kedutaan Mesir memberikan kepercayaan kepada IAAI sebagai lembaga resmi yang menjamin calon mahasiswa baru Al-Azhar untuk tidak menyalah-gunakan visa masuk ke negara Mesir untuk tindakan ilegal, seperti bekerja.

Seleksi Ulang di Mesir
Sejalan tujuan seleksi yang diselanggarakan di Indonesia, Al-Azhar pun berbenah terhadap kualitas calon mahasiswa baru yang akan mereka terima. Al-Azhar menyelenggarakan imtihan qabul (ujian penerimaan) bagi setiap calon mahasiswa asing yang diselenggarakan di Cairo. Meski sejalan dengan misi seleksi di Indonesia, imtihan qabul yang diselenggarakan di Cairo ini menimbulkan masalah baru. Mahasiswa baru asal Indonesia yang telah melakukan seleksi di Indonesia harus mengikuti seleksi ulang di Cairo. Mereka yang lulus, dapat dirima di universitas pada tahun itu juga, sementara yang tidak lulus harus mengikui daurah lughah (kelas persiapan bahasa) terlebih dahulu.

Menjawab persoalan di atas, Indonesia mengajukan penyelenggaraan seleksi imtihan qabul Al-Azhar di Indonesia, tidak di Cairo. Atas dasar inilah seleksi penerimaan mahaasiswa baru dilaksanakan dalam dua tahapan, yaitu tahap pertama dan tahap kedua. Seleksi tahap pertama dilaksanakan di beberapa kota dengan minat ke Al-Azhar tertinggi dan mampu menjangkau wilayah-wilayah tertentu di Indonesia. Peserta yang lulus pada seleksi tahap pertama mengikuti seleksi tahap kedua yang diselanggarakan di Jakarta. Jika pada seleksi tahap pertama diuji oleh alumni-alumni Al-Azhar terbaik di Indonesia, adapun pada seleksi tahap kedua peserta diuji langsung oleh tim penguji yang didatangkan langsung dari Universitas Al-Azhar. Sehingga seleksi tahap kedua yang diselenggarakan di Jakarta pada setiap tahunnya selama ini dimaksudkan sebagai pengganti seleksi imtihan qabul di Cairo.

Biaya Pemberkasan
Sebagaimana yang penulis sampaikan di atas, secara umum Al-Azhar memang memberikan beasiswa yang tidak terbatas bagi setiap calon mahasiswanya. Akan tetapi setiap mahasiswa harus mengeluarkan biaya hingga yang bersangkutan berada di bangku kuliah. Biaya yang harus dibayar saat pemberkasan diperuntukan untuk pengurusan visa, pembelian madruf (form pendaftaran universitas), biaya penerjemahan dan legalisasi berkas di beberapa lembaga Indonesia dan Mesir, biaya sewa apartemen untuk satu bulan pertama dan uang jaminan sewa senilai biaya sewa, serta biaya operasional komite. Biaya tersebut masih ditambahkan dengan biaya untuk mendatangkan para penguji dari Universitas Al-Azhar untuk menyelenggarakan imtihan qabul (seleksi tahap kedua) di Indonesia yang sebelumnya telah ditalangi (dibiayayai terlebih dahulu oleh IAAI Indonesia).

***

________
Penulis sendiri "pernah" menimba ilmu sebagai mahasiswa di lembaga pendidikan tersebut. Selama di Mesir, penulis merupakan staf korespondensi Atase Pendidikan KBRI Cairo untuk kegiatan kemahasiswaan Al-Azhar. Tiga tahun terakhir, penulis bekerja di kantor Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional cabang Indonesia, dan sejak tahun 2011 terlibat langsung dalam penyelenggaraan seleksi dan pemberkasan mahasiswa baru Al-Azhar.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344