Ramadhan segera menyongong umat Islam. Bukan puasanya yang hendak saya bicarakan namun mudiknya. Bukan juga bukan tentang mudik dalam arti harfiahnya, namun hikmah di baliknya. Mudik dalam arti yaitu kembali ke hulu atau asal, namun dalam hikmahnya ia merupakan sebuah momentum untuk kembali ke kampung idealis bagi mereka yang terlanjur menjadi warga kota.

Setuju atau tidak, masyarakat kota itu pragmatis. Sebelum tertarik dengan kota, kita adalah pribadi penganut idealisme. Paling tidak itu yang terjadi pada saya, dan mungkin kebanyakan warga kota saat ini. Dulu ketika saya masih di Kalimantan, saat mengembala seekor sapi adalah suatu kebanggaan dan satu-satunya hiburan, istilah “kota” sama sekali tidak terlintas dalam benak. Hidup idealis yang saya mau saat itu; sekolah dan tinggal di kampung, mengaji dan mengajar Al Qur’an di Madrasah, pergi ke kebun, dan dewasa menjadi warga kampung. Idealisme itu terkikis iris demi iris seiring alur hidup yang memaksa diri harus ke tanah Jawa, bahkan ke tanah Fir’aun. Kulminasinya ialah pragmatis menjadi dominan dalam diri begitu Ibu kota negara menjadi tempat tinggal bersama keluarga kecil yang telah saya bangun.

Jakarta itu kota pragmatis, begitupun dengan kota-kota lainnya di seluruh dunia. “Hei bung, Jakarta itu kota gila. Kalau kita tidak gila dalam bekerja, maka kita masuk rumah sakit jiwa”. Untuk hidup di Jakarta, jangan samakan dengan menuggu jadwal panen padi sambi dengan menikmati secangkir kopi di bawah pohon kelapa. Mau tidak mau kita harus menagih sendiri janji Tuhan untuk menafkahi kita di buminya. Caranya tentu dengan menjemput bola, bukan menunggunya. Kadang saya sendiri merasa malu karena kita ini seakan-akan memaksa Tuhan untuk mencukupkan kebutuhan kita.  Langkah ini terpaksa semata-mata karena sampai kapanpun UMR tidak akan pernah layak dijadikan tempat meminta.

Alhamdulillah saya menyadari kegilaan itu.  Kini saya berusaha move on dengan cara menyusun agenda mudik ke kampung idealis dalam dua makna. Makna pertama kembali ke kampung sebagai tempat menempa hidup, kembali ke habitat idealis dan menjauh dari ragam pragmatis yang selama ini membelenggu. Bagi saya, impian lama sudah terwujud, dan kini lahir impian baru, impian itu menjadi idealis kembali. Saya sudah tidak terlalu peduli dengan tawaran-tawaran yang diberikan kota untuk masa depan saya dan keluarga, karena hidup damai dan penuh ketenangan di kampung halaman adalah tawaran terbaik yang kita punya.

Kehidupan idealis baru saya nantinya mungkin masih ada bumbu-bumbu pragmatis. Saya rindu kembala sapi, tapi tidak hanya seokor sapi. Saya rindu mengaji dan mengajar di madrasah lagi, tapi dengan ratusan atau ribuan santri. Saya rindu sibuk di kebun lagi, tapi di tengahnya ada bangunan madrasah dan pensantren untuk generasi muda Islami. Semoga saat itu sampai, hembusan semilir angin masih tersisa untuk menghibur diri dalam mengabdi.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344