Islam lahir pada abad VI di tengah suku Qurays di kawasan Hijaz, Semenanjung Arab, beriklim panas dengan hamparan gurun pasir gersang. Sebelum Islam dikenalkan oleh Nabi Muhammad saw., keadaan suku Qurays saat itu bisa dikatakan jauh nyaris tak berperadaban.

Pola hidup momaden, berpindah-pindah dari oase satu ke oase lain, membuat mereka sibuk dalam pertikaian antara kabilah/klan yang kisah-kisah pertikaianya didokumentasikan dalam bentuk prosa yang dikenal dengan istilah Ayyam al `Arab. Bahkan, Sebagai penyembah banyak dewa yang berpusat di sekitar Ka’bah saat itu, dalam tatanan masyarakatnya nilai perempuan sangat rendah. Mereka dianggap sebagai anggota masyarakat kelas dua dan tidak memiliki hak kepemilikan bahkan menjadi harta milik dan dapat di wariskan kepada keturunannya.

Pantas, jika Islam terlahir di tengah-tengah masyarakat semerawut seperti kaum Qurays. Bagi kaum Qurays, Islam benar-benar menjadi pencerah bagi peradaban gelap yang terjadi hampir seabad, setelah runtuhnya negeri Saba. Sebagai agama penyempurna bagi agama-agama Samawi sebelumnya (Yahudi dan Nasrani), Islam terlahir sebagai agama Syamul, yang aturan-aturannya “syariat” dapat berlaku dimanapun dan kapanpun “Shalihun fi kulli zaman wa l makan”. Dengan kesuksesan Islam merubah pola hidup manusia menjadi lebih baik di Jazirah Arab, Timur tengah hingga kawasan Eropa kecil dan Asia pada perkembangannya, lagi-lagi menjadi bukti bahwa Islam memanglah agama yang memberi rahmat bagi semua “rahmatan lil `alamin”.

Isi kandungan al Qur’an yang tak hanya berisi aturan hablu minallah (hubungan manusia dan Tuhannya) akan tetapi juga hablu minannas (hubungan manusia dengan manusia). Sehingga Islam tak hanya mengurusi masalah ruhiyah (spiritual) saja, akan tetapi juga masalah siyasah (politik-hubungan dengan mahluk lain). Dengan kata lain, Islam adalah aqidah spiritual dan politik (al aqidah ar ruhiyah wa as siyasiyah). Aqidah spiritual (al aqidah ar ruhiyah) mengatur masalah akhirat, seperti surga dan neraka, pahala dan siksa, dan ibadah (shalat, puasa, zakat, haji dll). Sedangkan aqidah as siyasiyah mengatur urusan kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, pemerintahan,pendidikan, hukuman dan sebagainya. Lebih luas lagi, dalam al Qur’an terdapat ilmu pengetahuan yang kebenarannya tidak dapat diketahui pada zaman diturunkannya, namun terbukti kebenarannya kemudian, setelah Iptek berkembang kemudian. Allah memberikan aturan-aturan kepada setiap umat manusia baik yang berkaitan urusannya dengan Allah dan dengan sesama mahluk yaitu semata-mata untuk menjaga keseimbangan dunia.

Dalam praktik ekonomi misalnya, Islam memberikan konsep yang terangkum dalam terma “Muamalat”. Dimana seorang individu dengan individu lainnya yang saling membutuhkan diatur transaksi ekonominya, sehingga dihindarkan dari kezaliman dalam transaksi. Aturan jual beli dalam Islam diuraikan secara lengkap, namun juga disebutkan praktik praktik jual beli yang dilarang, misalnya; 1) menyakiti penjual, pembeli atau orang lain, 2) merahasiakan harga pasaran supaya memperoleh keuntungan yang berlipat, 3) merusak ketentraman umum. Meskipun penjelasannya telah diurakan berabad-abad silam dalam kitab-kitab Ulama Salaf al-Shalih, namun pada praktik kehidupan bisnis modern, kasus-kasus yang dilarang tersebut tetap terjadi bahkan membentuk dloror yang lebih besar. Islam mengatur mana yang boleh, mana yang halal, mana yang makruh dan mana yang dilarang dalam traksaksi ekonomi. Meskipun Syatiat-syariat tersebut lahir 14 abad yang lalu, akan tetapi tetap relevan untuk menjawab konsep dan teori perekenomian modern. Sebagaimana Agama yang Shalihun li kulli Zaman wal makan.

Hal ini bisa kita lihat dengan situasi dan kondisi perekonomian dunia baru-baru ini, dimana negara-negara yang menerapkan sistem perekonomian Kapitalis dan ribawi tergoyah oleh kemelut krisis yang berkepanjangan. Perbankan dan investasi kolaps karena sistem bagi hasil yang tak sehat. Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara-negara Islam yang menggunakan konsep perekonomian Islam, dan lembaga-lembaga perekonomian yang bernafaskan Islam. Pada gejolak krisis dunia 2009, lembaga-lembaga perekonomian Islam berdiri kokoh, meskipun terpengaruh sebagai lembaga multinasional.

Artinya, kalaulah konsep Islam dilaksanakan baik oleh individu maupun kelompok (syarikat) tentu saja kondisi dunia, utamanya dalam bidang ekonomi akan stabil. Akan tetapi, baru-baru ini banyak pihak dari kelompok-kelompok tertentu banyak memanfaatkan nama Islam untuk motif ekonomi. Mereka menjual nama Islam dengan cara memberikan “label Halal” terhadap suatu produk yang haram dan label halal untuk transaksi yang dilarang dalam Islam. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi akademisi Islam penggerak ekonomi Islam, karena masyarakat dunia terbilang cukup awam untuk membedakan mana yang benar-benar Islam atau yang hanya berlabel Islam pada kulitnya saja. Seperti kasus transaksi ekonomi Multi Level Martketing Islami yang kita dengar baru-baru ini.

Multi Level Marketing merupakan fenomena yang marak terjadi pada era modern ini. Banyak masyarakat kelas menengah kebawah, bahkan umat Muslim yang terjerat dan bergabung dengan metode penjualan berjenjang ini. Tak main-main, dengan kemampuan presentasinya, anggota MLM diiming-imingi kekayaan harta berlipat-lipat dalam waktu yang singkat. Namun tak sedikit yang tak mampu merealisasikannya kekayaan yang dijanjikan penyelenggara program MLM tersebut.

Melihat realita ini, nampaknya perlu diselenggarakan kajian mengenai substansi hukum Islam yang terkandung dalam praktik bisnis satu ini. Apakah dalam Muamalah Islam/Ekonomi Islam praktik bisnis seperti ini ada? Dan apakah sah menurut pandangan Islam. Menjawab pertanyaan ini, berikut kita kaji perihal “Ekonomi Dalam Islam” untuk meninjau hukum “Multi Level Marketing” yang akan disampaikan pada bab selanjutnya.

 

B. Ekonomi Dalam Islam

Dalam Islam, transaksi mumalat antara manusia satu dengan manusia lainnya diatur sedemikian rupa. Meskipun tidak sedetail konsep ekonomi dunia modern, akan tetapi ruh-ruh dalam setiap ayat dalam Al-Quran mengenai transaksi sosial telah diatur. Kalaupun dalam Al-Qur’an kurang jelas menerangkan satu hal, maka Hadits Nabi dari Muhammad SAW yang berupa perkataan, perbuatan dan persetujuannya merupakan acuan untuk menyusunnya. Dari dua sumber Islam yang utama ini, ulama sebagai penerus, penyambung misi Rasul melakukan penafsiran terhadap perkara-perkara transaksi sosial yang lebih gamblang, baik dengan cara Qiyas maupun dengan Ijtihad. Berikut ini landasan transaksi ekonomi dalam Islam:[1]

Firman Allah, Swt.

1. QS. An-Nisa (4): 29 Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku sukarela di antaramu...”

2. QS. Al-Maidah (5): 1: “Hai orang-orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu...”

3. QS. Al-Maidah (5): 2: “...dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan...”

4. QS. Al-Muthaffifiin (83): 1-3 Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.

5. QS.Al-Baqarah(2):275 “... Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...”

6. QS.Al-Baqarah(2):279 “... Kamu tidak boleh menzalimi orang lain dan tidak boleh dizalimi orang lain.”

7. Al-Maidah [5]: 90 “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan keji, perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Hadits Nabi

  1. 1. “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain,” (HR. Ibnu Majah, Daraquthni, dan yang lain dari Abu Sa’id al-Khudri).
  2. 2. “...Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram,” (HR Tirmidzi dari’Amr bin ‘Auf).
  3. 3. “Allah SWT berfirman: `Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar dari mereka,” (Hadits Qudsi Riwayat: Abu Dawud, yang dishahihkan oleh al Hakim, dari Abu Hurairah).
  4. 4. Nabi SAW melarang jual beli dengan cara melempar batu dan dari jual beli gharar, (HR. Khomsah dari Abu Hurairah).
  5. 5. “Barang siapa menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (Hadis Nabi riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah)
  6. 6 “Nabi SAW melarang (penggunaan) uang dari penjualan anjing, uang hasil pelacuran dan uang yang diberikan kepada paranormal," (Muttafaq ‘alaih).
  7. 7. “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi dan patung-patung. Rasulullah ditanya, ‘Wahai Rasulullah, tahukah Anda tentang lemak bangkai, ia dipakai untuk mengecat kapal- kapal, untuk meminyaki kulit-kulit dan dipakai untuk penerangan (lampu) oleh banyak orang ?’ Nabi SAW. menjawab, ‘Tidak! Ia adalah haram.’ Nabi SAW. kemudian berkata lagi, ‘Allah memerangi orang-orang Yahudi karena ketika Allah mengharamkan lemak bangkai kepada mereka, mereka mencairkannya dan menjualnya, kemudian mereka memakai hasil penjualannya, ” (Muttafaq ‘alaihi).
  8. 8. “Allah melaknat pemberi dan penerima risywah,” (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi)

Kaidah Fiqih

1. “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan”

2. “Ujrah/kompensasi sesuai dengan tingkat kesulitan (kerja)”

 

Larangan Dalam Muamalah

Secara ringkas, bahwa setiap transaksi muamalah hukumnya ialah halal, kecuali ada dalil yang mengharamkannya, baik haram dzat aslinya maupun haram dalam bentuk transaksinya. Adapun hal-hal yang bisa membuat sebuah transaksi bisnis menjadi haram adalah: [2]

  1. Riba. Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu berkata : "Rasulullah shalallahu 'alahi wasallam bersabda: "Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu yang paling ringan adalah semacam dosa seseorang yang berzina dengan ibunya sendiri" (HR. Ahmad 15/69/230, lihat Shahihul Jami 3375).
  2. Gharar. (Adanya Spekulasi yang tinggi) dan jahalah (adanya sesuatu yang tidak jelas). "Dari Abu Hurairah radhiallhu anhu berkata : "Rasulullah shalallahu 'alahi wasallam melarang jual beli ghoror". (HR. Muslim 1513)
  3. Penipuan. Dari Abu Hurairah radhiallhu anhu berkata: "Rasulullah shalallahu 'alahi wasallam melewati seseorang yang menjual makanan, maka beliau memasukkan tangannya pada makanan tersebut, ternyata beliau tertipu. Maka beliau bersabda: "Bukan termasuk golongan kami orang yang menipu". (HR. Muslim 1/99/102, Abu Dawud 3435, Ibnu Majah 2224)
  4. Perjudian. atau adu nasib Firman Allah Ta'ala: "Hai orang-orang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib, adalah perbuatan syaithan maka jauhilah." (QS. Al-Maaidah: 90)
  5. Kedhaliman. Sebagaimana firman Allah: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil" (QS. An-Nisaa:29)
  6. Yang dijual adalah barang haram. Dari Ibnu 'Abbas radhiallhu anhuma berkata :"Rasulullah shalallahu 'alahi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia pasti mengharamkan harganya". (HR. Abu dawud 3477, Baihaqi 6/12 dengan sanad shahih)

 

Nilai Universal Dalam Praktik Muamalah

Dalam transaksi sosial Islam terdapat nilai-nilai universal agar terjadi satu keseimbangan sosial.

1. Tauhid ( Keesaan Tuhan )

Tauhid merupakan fondasi ajaran Islam. Dengan tauhid, manusia menyaksikan bahwa “tiada suatu pun yang layak disembah selain Allah" dan “tidak ada pemilik langit, bumi dan isinya, selain daripada Allah”. Manusia hanya diberi amanah “memiliki” untuk sementara waktu, sebagai ujian bagi mereka. Segala suatu yang Dia ciptakan mempunyai tujuan. Tujuan inilah yang memberikan makna dari arti bagi esistensi alam semesta dimana manusia merupakan salah satu bagian di dalamnya. Kalau demikian halnya, manusia yang dibekali dengan kehendak bebas, rasionalitas, kesadaram moral yang dikombinasikan dengan kesadaran ketuhanan yang harus dituntut untuk hidup dalam kepatuhan dan ibadah kepada Tuhan yang Maha Esa.[3] Dengan demikian konsep tauhid dalam bangun ekonomi Islam ini bahwa manusia harus mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita khususnya dalam aktivitas ekonomi dan bisnis.

2. Adl/Adil/Keadilan

Keadilan merupakan nilai paling asasi dalam ajaran agama Islam. Secara garis besar keadilan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terdapat persamaan perlakuan dimata hukum, kesamaan hak kompensasi, hak hidup secara layak, hak menikmati pembangunan dan tidak adanya pihak yang diruguikan serta adanya keseimbangan dalam setiap aspek kehidupan.[4]

3. Nubuwwah (Kenabian)/Tazkiyah

Tazkiyah ialah peranan para nabi dan rasul yang diutuskan ke dunia ini berperanan dalam penyucian hubungan manusia dengan Allah SWT., manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitar, dan manusia dengan masyarakat dan negara. Jikalau proses ini dapat terlaksana dengan baik apapun pembangunan dan pengembangan yang dilakukan olehnya tidak aka berakibat kecuali untuk kebaikan dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungannya.[5]

4. Khilafah
Khilafah secara umum adalah amanah dan tanggung jawab manusia terhadap apa-apa yang telah dikuasakan kepadanya dalam bentuk sikap dan perilaku manusia terhadap Allah, sesama, dan alam semesta. Sedangkan secara khusus adalah tanggung jawab manusia untuk mengelola sumber daya yang dikuasakan Allah kepadanya untuk mewujudkan maslahah dan falah yang maksimum serta mencegah kerusakan di muka bumi.

5. Ma’ad ( hasil )

Secara harafiah ma’ad artinya kembali meskipun sering kali diterjemahkan sebagai “kebangkitan”. Karena kita semua akan kembali kepada Allah. Allah menandaskan bahwa manusia diciptakan manusia untuk berjuang. Perjuangan ini akan mendapatkan ganjaran, baik di dunia maupun di akhirat. Perbuatan baik dibalas dengan kebaikan yang berlipat-lipat, perbuatan jahat dibalas dengan hukuman yang setimpal. Karena itu, ma’ad diartikan juga sebagai ganjaran atau imbalan. Implikasi dalam kehidupan ekonomi dan bisnis menurut Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa motivasi para pelaku bisnis adalah untuk mendapatkan laba (laba dunia dan akhirat). Karena itu, konsep profit mendapatkan legitimasi dalam Islam.[6]

 

Akhlak Merupakan Perilaku Islami Dalam Perekonomian[7]

Sekarang kita telah memiliki landasan teori yang kuat, serta prinsip-prinsip sistem ekonomi islam yang mantap. Namun, dua hal ini belum cukup karena teori dan sistem menuntut adanya manusia yang menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam teori dan sistem tersebut. Dengan kata lain, harus ada manusia yang berperilaku, berakhlak secara professional (ihsan, itqan) dalam bidang tertentu yakni ekonomi. Baik dia berada pada posisi produsen, konsumen, pengusaha, karyawan atau sebagai pejabat pemerintah sekaligus. Karena teori yang unggul dan sistem ekonomi yang sesuai syariah sama sekali bukan merupakan jaminan bahwa perekonomian umat islam akan otomatis maju.

Sistem ekonomi islam hanya memastikan bahwa tidak ada transaksi ekonomi yang bertentangan dengan syariah. Tetapi chimera bisnis tergantung pada man behind the gun-nya. Karena itu pelaku ekonomi dalam kerangka ini dapat saja dipegang oleh umat non-muslim. Perekonomian umat islam baru dapat maju bila pola piker dan pola laku muslimin dan muslimat sudah itqan (tekun) dan ihsan (professional). Hal ini mungkin salah satu rahasia sabda Nabi :

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq". Karena akhlak (perilaku) menjadi indicator atau tolak ukur baik-buruknya manusia. Baik-buruknya perilaku bisnis para pengusaha menentukan sukses-gagalnya bisnis yang telah dijalankannya.

C. Multi Level Marketing (MLM) Dalam Perspektif Hukum Islam

  1. 1. Pengertian Multi Level Marketing

Multi Level Marketing (MLM) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Pemasaran Berjenjang suatu metode bisnis alternatif yang berhubungan dengan pemasaran dan distribusi yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang biasa dikenal dengan istilah Upline (tingkat atas) dan Downline (tingakt bawah), orang akan disebut Upline jika mempunyai Downline. Inti dari bisnis MLM ini digerakkan dengan jaringan ini, baik yang bersifat vertikal atas bawah maupun horizontal kiri kanan ataupun gabungan antara keduanya. [8]

Adapun Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI menjelaskan bahwa Penjualan Langsung Berjenjang adalah cara penjualan barang atau jasa melalui jaringan pemasaran yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha kepada sejumlah perorangan atau badan usaha lainnya secara berturut-turut. [9]

2. Praktik Multi Level Marketing Pada Umumnya

Realitanya, Secara global, sistem bisnis MLM dilakukan dengan cara menjaring calon nasabah yang sekaligus berfungsi sebagai konsumen dan member (anggota) dari perusahaan yang melakukan praktek MLM. Adapun secara terperinci bisnis MLM dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Mula-mula pihak perusahaan berusaha menjaring konsumen untuk menjadi member, dengan cara mengharuskan calon konsumen membeli paket produk perusahaan dengan harga tertentu.
  2. Dengan membeli paket produk perusahaan tersebut, pihak pembeli diberi satu formulir keanggotaan (member) dari perusahaan.
  3. Sesudah menjadi member maka tugas berikutnya adalah mencari member-member baru dengan cara seperti diatas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.
  4. Para member baru juga bertugas mencari calon member-member baru lagi dengan cara seperti diatas yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.
  5. Jika member mampu menjaring member-member yang banyak, maka ia akan mendapat bonus dari perusahaan. Semakin banyak member yang dapat dijaring, maka semakin banyak pula bonus yang didapatkan karena perusahaan merasa diuntungkan oleh banyaknya member yang sekaligus mennjadi konsumen paket produk perusahaan.
  6. Dengan adanya para member baru yang sekaligus menjadi konsumen paker produk perusahaan, maka member yang berada pada level pertama, kedua dan seterusnya akan selalu mendapatkan bonus secara estafet dari perusahaan, karena perusahaan merasa diuntungkan dengan adanya member-member baru tersebut.

 

Diantara perusahaan MLM, ada yang melakukan kegiatan menjaring dana masyarakat untuk menanamkan modal diperusahaan tersebut, dengan janji akan memberikan keuntungan sebesar hampir 100% dalam setiap bulannya. [10]

Beragamnya bentuk bisnis MLM membuat sulit untuk menghukumi secara umum, namun ada beberapa sistem MLM yang jelas keharamannya, yaitu menggunakan sistem sebagai berikut :

  1. 1. Menjual barang-barang yang diperjualbelikan dalam sistem MLM dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga wajar, maka hukumnya haram karena secara tidak langsung pihak perusahaan teah menambahkan harga yang dibebankan kepada pihak pembeli sebagi sharing modal dalam akad syirkah mengingat pembeli sekaligus akan menjadi member perusahaan yang apabila ia ikut memasarkan akan mendapat keuntungan estafet. Dengan demikian praktek perdagangan MLM mengandung unsur kesamaran atau penipuan karena terjadi kekaburan antara akad jual beli, syirkah dan mudlarabah, karena pihak pembeli sesudah menjadi member juga berfungsi sebagai pekerja yang akan memasarkan produk perusahaan kepada calon pembeli atau member baru. (Lihat Fiqh Indonesia hal: 288)
  2. 2. Calon anggota mendaftar keperusahaan MLM dengan membayar uang tertentu, dengan ketentuan dia harus membeli produk perusahaan baik untuk dijual lagi atau tidak dengan ketentuan yang telah ditetapkan untuk bisa mendapatkan point atau bonus. Dan apabila tidak bis a mencapai target tersebut maka keanggotaannya akan dicabut dan uangnya pun hangus. Ini diharamkan karena unsur ghoror (spekulasi) nya sangat jelas dan ada unsur kedhaliman terhadap anggota.
  3. 3. Calon anggota mendaftar dengan membayar uang tertentu, tapi tidak ada keharusan untuk membeli atau menjual produk perusahaan, dia hanya berkewajiban mencari anggota baru dengan cara seperti diatas, yakni membayar uang pendaftaran. Semakin banyak anggota maka akan semakin banyak bonusnya. Ini adalah bentuk riba karena menaruh uang diperusahaan tersebut kemudian mendapatkan hasil yan lebih banyak.
  4. 4. Mirip dengan yang sebelumnya yaitu perusahaan MLM yang melakukan kegiatan menjaring dana dari masyarakat untuk menanamkan modal disitu dengan janji akan diberikan bunga dan bonus dari modalnya. Ini adalah haram karena ada unsur riba.
  5. 5. Perusahaan MLM yang melakukan manipulasi dalam memperdagangkan produknya, atau memaksa pembeli untuk mengkonsumsi produknya atau yang dijual adalah barang haram. Maka MLM tersebut jelas keharamannya. Namun ini tidak cuma ada pada sebagian MLM tapi bisa juga pada bisnis model lainnya.

 

Banyak pertanyaan seputar bisnis yang banyak diminati oleh khalayak ramai yang secara umum gambarannya adalah mengikuti pola piramida dalam sistem pemasaran, dengan cara setiap anggota harus mencari anggota- anggota baru dan demikian seterus selanjutnya. Setiap anggota membayar uang pada perusahaan dengan jumlah tertentu dengan imingiming dapat bonus, semakin banyak anggota dan memasarkan produknya maka akan semakin banyak bonus yang dijanjikan. Sebenarnya kebanyakan anggota MLM ikut bergabung dalam perusahaan tersebut adalah karena adanya iming-iming bonus tersebut dengan harapan agar cepat kaya dalam waktu yang sesingkat mungkin dan bukan karena dia membutuhkan produknya. Bisnis model ini adalah perjudian murni, karena beberapa sebab berikut, yaitu:

  1. 1. Sebenarnya anggota MLM ini tidak menginginkan produknya, akan tetapi tujuan utama mereka adalah penghasilan dan kekayaan yang banyak lagi cepat yang akan diperoleh setiap anggota hanya dengan membayar sedikit uang.
  2. 2. Harga produk yang dibeli sebenarnya tidka sampai 30% dari uang yang dibayarkan pada perusahaan MLM.
  3. 3. Bahwa produk ini bisa dipindahkan oleh semua orang dengan biaya yang sangat ringan, dengan cara mengakses dari situs perusahaan MLM ini dijaringan internet.
  4. 4. Bahwa perusahaan meminta para anggotanya untuk memperbaharui keanggotaannya setiap tahun dengan di iming-imingi berbagai program baru yang akan diberikan pada mereka.
  5. 5. Tujuan perusahaan adalah membangun jaringan personil secara estafet dan berkesinambungan. Yang mana ini akan menguntungkan anggota yang berada pada level atas (Upline) sedangkan level bawah (downline) selalu memberikan nilai point pada yang berada dilevel atas mereka.

 

3. Unsur Gharar Dalam Multi Level Marketing

Sebelum membahas pokok permasalahan pada sub bab ini, kita ulas terlebih dahulu tentang apa itu Gharar. Gharar/jahalah. Gharar (spekulasi) didefinisikan oleh para fuqaha kemungkinan, keraguan, ketidakjelasan, dan ketidakpastian; apakah akan mendapatkan suatu hasil ataukah tidak. Para fuqaha memerinci gharar menjadi beberapa jenis, yaitu:

  1. Gharar fil wujud, yakni spekulasi keberadaan, seperti menjual sesuatu anak kambing, padahal induk kambing belum lagi bunting.
  2. Gharar fil hushul, yakni spekulasi hasil, seperti menjual sesuatu yang sedang dalam perjalanan, belum sampai ke tangan penjual.
  3. Gharar fil miqdar, yakni spekulasi kadar, seperti menjual ikan yang terjaring dengan sekali jaring sebelum dilakukannya penjaringan.
  4. Gharar fil jinsi, yakni spekulasi jenis, seperti menjual barang yang tidak jelas jenisnya.
  5. Gharar fish shifah, spekulasi sifat, seperti menjual barang yang spesifikasinya tidak jelas.
  6. Gharar fiz zaman, spekulasi waktu, seperti menjual barang yang masa penyerahannya tidak jelas.
  7. Gharar fil makan, spekulasi tempat, seperti menjual barang yang tempat penyerahannya tidak jelas.
  8. Gharar fit ta’yin, spekulasi penentuan barang, seperti menjual salah satu baju dari dua baju, tanpa dijelaskan mana yang hendak dijual.

Terkait dengan gharar ini, para fuqaha menyatakan, gharar yang diharamkan adalah gharar yang terang dan banyak—seperti menjual ikan di dalam kolam, sedangkan gharar yang sedikit—seperti menjual jeruk tanpa dikupas terlebih dahulu—dimaafkan.

Di dalam beberapa MLM banyak terdapat unsur Gharar (spekulatif) atau sesuatu yang tidak ada kejelasan yang diharamkan Syariat, karena anggota yang sudah membeli produk tadi, mengharap keuntungan yang lebih banyak dari bonus. Tetapi dia sendiri tidak mengetahui apakah berhasil mendapatkan keuntungan tersebut atau malah merugi. Di antara bonus yang dijanjikan kepada anggota adalah bonus atas penjualan (atau lebih tepatnya belanja) downline. Dengan syarat menutup point (dengan berbelanja senilai bilangan tertentu; 200.000 rupiah, misalnya), anggota akan mendapatkan bonus sekian persen dari belanja seluruh downline-nya. Belanja seluruh downline sejumlah bilangan tertentu adalah asumsi alias belum tentu mereka berbelanja, sehingga bonus yang dijanjikan sekian persen adalah sesuatu yang belum pasti.

 

Unsur Lain Yang Mengharamkan

  • Dua Akad Dalam Satu Akad

Di dalam transaksi dengan metode MLM, seorang anggota mempunyai dua kedudukan: Kedudukan pertama, sebagai pembeli produk, karena dia membeli produk secara langsung dari perusahaan atau distributor. Pada setiap pembelian, biasanya dia akan mendapatkan bonus berupa potongan harga.
Kedudukan kedua, sebagai makelar, karena selain membeli produk tersebut, dia harus berusaha merekrut anggota baru. Setiap perekrutan dia mendapatkan bonus juga.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian.”( HR Tirmidzi, Nasai dan Ahmad. Berkata Imam Tirmidzi)

“Tidak halal menjual sesuatu dengan syarat memberikan hutangan, dua syarat dalam satu transaksi, keuntungan menjual sesuatu yang belum engkau jamin, serta menjual sesuatu yang bukan milikmu.” (HR. Abu Daud)

— Samsarah Berantai

Sebenarnya makelar (samsarah) dibolehkan di dalam Islam, yaitu transaksi di mana pihak pertama mendapatkan imbalan atas usahanya memasarkan produk dan pertemukannya dengan pembelinya.
Adapun makelar di dalam MLM bukanlah memasarkan produk, tetapi memasarkan komisi. Maka, kita dapatkan setiap anggota MLM memasarkan produk kepada orang yang akan memasarkan dan seterusnya, sehingga terjadilah pemasaran berantai. Dan ini tidak dibolehkan karena akadnya mengandung gharar dan spekulatif.

— Perjudian

seseorang ketika membeli salah satu produk yang ditawarkan, sebenarnya niatnya bukan karena ingin memanfaatkan atau memakai produk tersebut, tetapi dia membelinya sekedar sebagai sarana untuk mendapatkan point yang nilainya jauh lebih besar dari harga barang tersebut. Sedangkan nilai yang diharapkan tersebut belum tentu ia dapatkan.
Perjudian juga seperti itu, yaitu seseorang menaruh sejumlah uang di meja perjudian, dengan harapan untuk meraup keuntungan yang lebih banyak, padahal keuntungan tersebut belum tentu bisa ia dapatkan.

— Betentatangan Dengan kaidah Fiqh

Bertentangan dengan kaidah umum jual beli, seperti kaidah :

Al Ghunmu bi al Ghurmi, yang artinya bahwa keuntungan itu sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan atau resiko yang dihadapinya.

Di dalam MLM ada pihak-pihak yang paling dirugikan yaitu mereka yang berada di level-level paling bawah, karena merekalah yang sebenarnya bekerja keras untuk merekrut anggota baru, tetapi keuntungannya yang menikmati adalah orang-orang yang berada pada level atas. Merekalah yang terus menerus mendapatkan keuntungan-keuntungan tanpa bekerja, dan mereka bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Apalagi jika mereka kesulitan untuk melakukan perekrutan, dikarenakan jumlah anggota sudah sangat banyak.

 

4. Multi Level Marketing Berlabel Halal

Menjawab atas merebaknya bisnis Multi Level Marketing berkedok Syariah, Dewan Syariah Nasional dalam fatwanya mengeluarkan ketentuan yang wajib dipenuhi oleh pelaku MLM berkedok syariah, yaitu sebagai berikut:

  1. Adanya obyek transaksi riil yang diperjualbelikan berupa barang atau produk jasa;
  2. Barang atau produk jasa yang diperdagangkan bukan sesuatu yang diharamkan dan atau yang dipergunakan untuk sesuatu yang haram;
  3. Transaksi dalam perdagangan tersebut tidak mengandung unsur gharar, maysir, riba, dharar, dzulm, maksiat;
  4. Tidak ada kenaikan harga/biaya yang berlebihan (excessive mark-up), sehingga merugikan konsumen karena tidak sepadan dengan kualitas/manfaat yang diperoleh;
  5. Komisi yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota baik besaran maupun bentuknya harus berdasarkan pada prestasi kerja nyata yang terkait langsung dengan volume atau nilai hasil penjualan barang atau produk jasa, dan harus menjadi pendapatan utama mitra usaha dalam PLBS;
  6. Bonus yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) harus jelas jumlahnya ketika dilakukan transaksi (akad) sesuai dengan target penjualan barang dan atau produk jasa yang ditetapkan oleh perusahaan;
  7. Tidak boleh ada komisi atau bonus secara pasif yang diperoleh secara reguler tanpa melakukan pembinaan dan atau penjualan barang dan atau jasa;
  8. Pemberian komisi atau bonus oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) tidak menimbulkan ighra’.
  9. Tidak ada eksploitasi dan ketidakadilan dalam pembagian bonus antara anggota pertama dengan anggota berikutnya;
  10. Sistem perekrutan keanggotaan, bentuk penghargaan dan acara seremonial yang dilakukan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan aqidah, syariah dan akhlak mulia, seperti syirik, kultus, maksiat dan lain- lain;
  11. Setiap mitra usaha yang melakukan perekrutan keanggotaan berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan kepada anggota yang direkrutnya tersebut;
  12. Tidak melakukan kegiatan money game.

C. Kesimpulan

Islam merupakan agama yang Syamul, lengkap. Produk hokum dan pengetahuan yang lahir darinya tidak hanya berlaku pada zaman dan tempat lahirnya, akan tetapi juga pada setiap tempat dan waktu, Shalihun Li Kulli Zaman wal Makan dan Rahmatan lil ‘alamin. Islam tidak hanya mengatur aktifitas individu makhluk dengan tuhannya, atau Ubudiyyah saja, namun juga terhadap perkara sosial, antar manusia bahkan antar mahkluk, Siyasiyah. Sehingga tidak heran jika pada perkembangannya, dalam dunia akademik ke-Islaman, dijumpai banyak cabang ilmu yang lahir dari Islam itu sendiri, baik itu yang berkaitan dengan keilmuan keagamaan maupun ilmu pengetahuan sosial dan sains. Hal ini sangat menguntungkan umat Islam, karena fenemona-fenomena masyarakat dalam dunia modern pun dapat diselesaikan oleh hokum-hukum syara’ yang lahir ribuan tahun yang lalu. Termasuk di dalamnya fenomena ekonomi modern yang sangat beragam variannya. Salah satunya praktik ekonomi Multi Level Marketing.

Meskipun praktik MLM atau Penjualan Berjangka ini merupakan bentuk baru, akan tetapi hukum Islam dapat memandang kehalalan maupun keharamannya dengan sumbur hukum yang ada, baik itu dari Al-Qur’an dan Hadits maupun produk ulama-ulama dari ijtihad dan qiyas yang dilakukan oleh mereka. Penimbanga hukum Islam terhadap MLM ini sangat penting, karena praktik ini merupakan fenomena umat yang harus diekspor secara gambling hukumnya. Sehingga umat menjadi jelas, bagaimana posisi praktik ini dalam hal ini, karena bagaimanapun sesuatu yang masih samar-samar harus dihindarkan.

Karena varian praktik MLM sangat beragam, sulit rasanya untuk mengatakan bahwa praktik bisnis MLM itu haram atau halal dalam Islam. Namun, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa kalaupun MLM tersebut memenuhi syarat-syarat halal sebagaimana yang disebut di atas, maka praktiknya adalah sah. Namun jika dalam praktik MLM tersebut terdapat unsur-unsur yang mengharamkan seperti Gharar, Penipuan dan Riba, maka jelas hukumnya HARAM.

 


[1] MUI, DSN, Pedoman Penjualan Langsung Berjenjang Syariah (PLBS), Jakarta, MUI, 2009

[2] Lihat Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Zadul Ma'ad Imam Ibnul Qayyim 5/746, Taudlihul Ahkam Syaikh Abdullah Al-Bassam 2/233, Ar-Roudloh An-Nadiyah 2/345, Al-Wajiz Syaikh Abdul Adlim al-Badawi hal:332

 

[3] M. Umer Chapra. Islam dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta: Gema Insani Press.2000, Hlm 6

[4] P3EI. Ekonomi islam edisi pertama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2008, Hlm: 59

[5] Ahmad Izzan dan Syahri Tanjung. Referensi Ekonomi Syariah (ayat-ayat Al-Quran yang berdimensi ekonomi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006, Hlm 40

[6] Adiwarman A. karim. Ekonomi Mikro Islam edisi ketiga. 2007. Hlm: 42

[7] Ibid. Hlm: 46

[8] Santoso, Benny, All About MLM; Memahami Lebih jauh MLM dan Pernak Perniknya, Jakarta, Andy Publisher, 2006. Hlm. 28

[9] DSN, MUI, Loc. Cit.

[10] MUI, Fiqh Indonesia; Himpunan MUI DKI Jakarta, Hlm. 285-287

 

Daftar Pustaka:

P3EI. 2008. Ekonomi islam edisi pertama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Ahmad Izzan dan Syahri Tanjung. 2006. Referensi Ekonomi Syariah (ayat-ayat Al-Quran yang berdimensi ekonomi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

MUI, Fiqh Indonesia; Himpunan MUI DKI Jakarta, Hlm.

Santoso, Benny, 2006, All About MLM; Memahami Lebih jauh MLM dan Pernak Perniknya, Jakarta, Andy Publisher

MUI, DSN, 2009, Pedoman Penjualan Langsung Berjenjang Syariah (PLBS), Jakarta, MUI

Adiwarman A. karim. 2007. Ekonomi Mikro Islam edisi ketiga

M. Umer Chapra. 2000. Islam dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta: Gema Insani Press

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344