Persoalan takfir “pengkafiran” terhadap sesama umat Islam tidak pantas untuk disebut sebagai sebuah isu. Takfir merupakan persoalan klasik yang hingga kini belum terpecahkan solusinya. Tidak hanya di hulu, di mana Islam lahir, takfir tidak hanya terjadi di tengah-tengah muslim Timur Tengah, akan tetapi telah menyebar di seantero dunia. Bahkan di beberapa negara seperti di Indonesia, persoalan ini tidak hanya menjadi jurang pemisah antar umat Islam, akan tetapi pada aksi yang teror mematikan.

Dalam dunia Islam, sifat dari kelompok-kelompok yang muncul dapat digolongkan pada tiga pemikiran. Pertama, Tasahhul; yaitu mereka yang terlalu mempermudah segala hal atau dalam pemikiran Islam modern lebih dikenal sebagai kelompok “Liberal”. Kedua, Tasyaddud; yaitu mereka yang memiliki pemikiran keras dalam beragama, atau yang lebih dikenal sebagai kelompok “radikal”. Ketiga, Tawassuth; yaitu mereka yang berada pada posisi moderat di antara kelompok Liberal dan Radikal. Akan tetapi, oleh kelompok radikal yang doyan memberikan label “kafir” kepada sesama Islam, kelompok moderat dianggap tidak bedanya dengan kelompok liberal.

Dibandingkan dengan generasi pendulumnya, kelompok radikal era modern memiliki banyak perbedaan. Pertama, Takfiri modern memiliki dimensi global, kedua, mereka adalah sebuah gerakan terorganisir, ketiga, Takfiri modern melegalkan semua aksi keji dan buas, dan keempat, menampilkan wajah Islam sebagai agama yang kejam di tengah opini publik dunia. Dengan kriteria tersebut tidak heran jika aksi mereka sangat membantu program islamphobia yang didengungkan oleh dunia Barat terhadap dunia Islam.

Dalam praktinya, kelompok ini tidak hanya ber-tasyaddud dalam hal akidah, akan tetapi juga dalam persoalan ibadah, muamalah, dan bernegara. Maka dari itu, meski takfir sebenarnya merupakan wilayah akidah, akan tetapi kelompok Takfiri menyerang wilayah Fikih “siyasah-muamalah” sebagai amunisi serangnya. Jelas bahwa antara kelompok Takfiry dan kelompok Islam lainnya tidak ada perbedaan dalam hal ketauhidan, di mana sama-sama mengucapkan kalimat syahadat. Aneh jika label “kafir” disematkan kepada siapapun yang “salah” atau “kurang benar” dalam menerapkan amalan-amalan Fikih dalam kehidupannya.

Satu hal tampak di depan mata ialah aksi teror mematikan yang dilancarkan kepada pemerintahan-pemerintahan yang dianggap Thaghut. Bagi kelompok radikal ini, sistem bernegara yang dilaksanakan oleh sebagian besar negara-negara Muslim menyimpang dari prinsip-prinsip Islam. Segala bentuk yang dihasilkan oleh pemerintah, dan dewan perwakilan rakyat tidak harus dipatuhi oleh umat Islam karena dilahirkan dari proses demokrasi, bukan dari proses yang diajarkan oleh Islam. Padahal prinsip-prinsip demokrasi yang dijalankan oleh sebagian besar negara-negara muslim sebenarnya tidak bertentangan dengan asas politik dalam Islam, di mana esensinya ialah penyeruan kebajikan dan mencegah kemungkaran. Oleh sebab itu sistem demokrasi bukanlah bersifat kufur ataupun mungkar sebagaimana yang didakwakan oleh meraka. Perlu dicermati bahwa sebenarnya Islam telah terlebih dahulu menggambarkan prinsip-prinsip demokrasi yang saat ini digunakan saat ini. Hanya saja Islam tidak mengenal istilah demokrasi saat itu.

Menjawab persoalan yang juga tengah terjadi di negaranya, Dar al-Ifta Mesir melakukan kajian yang hasilnya ialah tidak adanya pertentangan yang signifikan pada undang-undang negara yang disepakati oleh rakyat melalui majlis perwakilan dan syariat Islam. Menurut Dar al-ifta bahwa Islam tidak pernah melarang untuk mengambil ide pemikiran dalam bentuk teori maupun formula dalam menyelesaikan suatu perkara dari golongan bukan Islam. Hal tersebut tergambar sebagaimana Nabi Muhammad Saw. mengambil ide penggalian parit pada perang Khandak dari seorang Persia. Berkaca dari hal tersebut tidak ada masalah jika demokrasi yang konon berasal dari dunia Barat digunakan di negara-negara Muslim.

(Bersambung…)

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344