Setiap orang memiliki hak yang sama untuk berpendapat, dan memiliki gagasan tersendiri terhadap suatu hal. Terlebih dalam konteks negara Indonesia, dimana dengan demokrasi bebasnya, seolah-olah memberikan ruang seluas-seluasnya bagi sesiapapun yang berada di wilayah negeri ini untuk mengungkapkan pendapatnya. Demokrasi sendiri lebih sering diartikan sebagai penghargaan atas hak asasi manusia. Sehingga perilaku setiap orang dalam mengutarakan pendapat/gagasannya seakan-akan dilindungi oleh undang-undang.

Kebebasan berekspresi terlalu lampau ini menimbulkan gejolak yang terlampau mengakhawatirkan. Bagaimana tidak, sebagian besar hanya mengambil hak berpendapatnya tanpa menghiraukan lagi batasan-batasan/etika dalam berpendapat. Sehingga yang terjadi ialah seperti pada era serba digital saat ini. Seorang pelajar dengan berani membantah pendapat/gagasan yang disampaikan oleh seorang cendikia yang telah kenyang makan garam.  Seseorang yang baru belajar tentang Islam kemarin sore dengan berani menyalahkan pendapat seorang faqih, seorang mufasir  yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengkaji keilmuan Islam.

Yang menyedihkan, tidak sedikit dari orang-orang berlaku seperti di atas tidak bisa menerima penjelasan mendalam dari pihak yang dibantahnya. Akal rasional mereka mungkin bisa menerima dengan baik, akan tetapi hati telah sengaja dibutakan sejak dari awal. Mereka membukakan mata hati hanya atas apa yang disampaikan oleh para guru-guru kilatnya. Matanya bisa melihat, akan tetapi saraf bacanya hanya akan berfungsi pada buku-buku yang telah ditentukan oleh para ustadznya. Sehingga apapun yang disampaikan oleh ustadznya adalah benar dan selain darinya adalah salah/sesat.

Sikap seperti di atas sangat menghawatirkan, dimana seseorang menjadi fanatik dalam beragama. Seseorang tidak lagi menghukumi sesuatu berdasarkan mekanisme yang disepakati oleh salaf as shalih akan tetapi mengikuti uztadznya. Jika A adalah haram, maka seseorang tersebut tidak membutuhkan lagi alasan kenapa A itu haram. Jika pemimpinnya mengatakan bahwa si B adalah kafir, maka pengikutnya serempak mengatakan kafir tanpa harus tahu bagaimana dan apa kafir itu sendiri.

Kasus Al-Azhar

Kefanatikan ini rupanya tidak hanya terjadi di tingkat awam, akan tetapi telah menjadi racun menular bagi kalangan akademik-akademik muda Islam, seperi lulusan sekaliber Al-Azhar. Kalangan muda ini mendadak terlihat seperti amnesia dengan apa yang diajarkan oleh diktat-diktat kuliah dan manhaj dakwah yang ditetapkan oleh Al-Azhar. Tidak sedikit dari mereka yang datang ke Cairo bertindak selayaknya VOC yang menjajah Indonesia. Mereka datang bukan untuk mengambil ilmu dan mematuhi manhaj islam moderat Al-Azhar, akan tetapi sebaliknya. Bahkan banyak di antaranya yang secara terbuka mengeluarkan makiannya terhadap lembaga Islam tertua dan paling disegani di dunia tersebut.

Belajar ke Universitas Al-Azhar adalah impian banyak kalangan muda Islam. Tentu di dalam benak kita seharusnya sejak awal setiap mahasiswa harus mematuhi qarar yang ditetapkan. Akan tetapi banyak dijumpai bahwa ada beberapa kelompok mahasiswa yang justru belajar dari instansi/kelompok yang manhaj dakwahnya tidak sejalan dengan Islam moderat Al-Azhar.  Bahkan pada satu kasus terbukti bahwa mereka ini lebih mencintai instansi/kelompok tersebut daripada Al-Azhar. Sehingga tidak heran jika pada kasus tersebut kebanyakan dari mereka menyatakan pertentangan mereka terhadap Al-Azhar dan amnesia atas apa tujuan awal datang ke Cairo.

Kasus ISIS 

Islamic State in Iraq and Syams (ISIS) atau Daulah Islamiyyah fî al-Iraq wa al-Syâm(DAISY) yang beberapa bulan terakhir bergejolak mengundang perhatian seluruh dunia. Organisasi Jihad ini menobatkan Abu Bakar al-Baghdadi sebagai Khalifah umat Islam yang harus dipatuhi. Meski digadang-gadang sebagai bentuk riil atas gagasan membangkitkan kekhalifahan Islam, akan tetapi di antara kelompok pegiat khalifah Islam yang di dunia tidak sepakat dengan negara Islam yang diproklamirkan oleh ISIS tersebut. Bahkan gejolak atas perbedaan pandangan ini, ISIS mengeluarkan fatwa bolehnya berperang melawan kelompok-kelompok Islam lainnya yang tidak sejalan.

Terlepas dari polemik internal, gejolak ISIS telah sampai di Indonesia. Di beberapa wilayah di Indonesia, kelompok-kelompok Islam garis keras seperti yang dinaungi oleh Abu Bakar Ba’asyir telah membaiatkan diri kepada ISIS. Dengan perintah Ba’asyir para pengikutnya membaitkan dirinya untuk patuh terhadap ISIS dan tidak sedikit dari mereka telah berangkat mengikuti perang Jihad di Iraq.

Menurut hemat penulis, kasus ISIS dan kelompok-kelompok garis lainnya lebih berat dibandingkan dengan gejolak yang terjadi antara Palestina-Israel di waktu yang sama. Bagaimana tidak, fanatisme pada kasus ISIS ini sangat membayakan bagi keberlangsungan dunia Islam di masa mendatang. Seorang yang mengaku Muslim dengan serta mematuhi perintah orang yang dianggap khalifah untuk berperang melawan sesama muslim lainnya. Hati dan akal sehat hatinya telah tertutup rapat oleh bai’at yang dilakukan.

Semua kita sepakat bahwa negara seperti Israel adalah musuh kita bersama, bahkan tidak hanya oleh muslim, namu juga oleh mereka yang terpanggil hatinya. Adapun menyatakan permusuhan antar umat Islam adalah pandangan yang tidak benar dan harus dilurus. Akan tetapi upaya untuk meluruskan dengan menjelaskan ajaran yang Islam yang benar tidak mudah selagi fanatisme merupakan ideologi utama mereka bahkan dibandingkan islamisme itu sendiri.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344