Sebelum membaca, penulis ingatkan untuk tidak terprovokasi atas judul artikel ini. Apa yang akan diutarakan pada beberapa paragraf di bawah insyallah tidak seperti yang pembaca bayangkan. Penulis tidak juga akan menyudutkan para Jenggoters. Jadi jangan buru-buru menuduh penulis sesat dan menyesatkan. Yang penulis utarakan memang seputar jenggot. Tidak hanya dari perspektif syariat, akan tetapi lebih ke salah satu maqasyidusy syariat, yaitu maslahat.

Terkait memelihara jenggot, para ulama, dari zamannya Salaf as shalih hingga ulama-ulama modern saat ini mayoritas menyepakati kesunahannya. Adapun untuk memotong/mencukurnya, ada perbedaan pendapat yang menghasilkan tiga produk hukum, yaitu haram, makruh, dan mubah. Namun menurut hemat penulis hukum mencukur jenggot adakalanya wajib, yaitu dalam situasi dan kondisi tertentu. Misalnya ada seorang tentara muslim yang berjenggot terkena tembakan tepat didagunya. Kondisi ini mewajibkan si pemilik jenggot untuk merelakan jenggot kesayangannya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat maslahat baik dalam bentuk hikmah dan manfaat memelihara jenggot. Dari penampilan misalnya, pemeliharaan jenggot oleh Nabi dimaksudkan untuk membedakan antara kaum muslimin dan kaum kuffar saat itu. Hikmah memeliharanya juga untuk menegaskan identitas seorang laki-laki. Ya betul, mana ada perempuan berjenggot?. Bahkan dari perespektif kesehatan pun, berjenggot memilki manfaat yang tidak sedikit jumlahnya. Karena kemaslahatan yang ada seperti di atas lah yang menjadikan seorang pria muslim rela berjenggot.

Dinilai dari amaliyah ibadah, seorang muslim yang berjenggot mendapatkan pahala atas sunah yang ia kerjakan, dan inilah alasan terkuat mengapa para Jenggoters rela memanjangkan jenggotnya. Ya, alasan mereka ialah sunah Nabi. Padahal setiap apa yang diwajibkan, disunahkan, dimakruhkan, dan diharamkan oleh syariat itu ada maksud dan tujuannya. Akan tetapi tidak banyak muslim-terutama yang awam- mengerti maksud dan tujuannya. Yang penting itu sunah Rasul, dapat pahala, dan masuk surga.

Yang menarik, banyak-tidak satu atau dua- Jenggoters yang mengemukakan bahwa setiap helai jenggot yang ia pelihara akan diganti dengan seorang bidadari cantik di surga. Anekdot-ungkapan menarik- ini sangat lumrah dan popular di kalangan para jenggoters. Itulah mengapa seorang rekan penulis menggerutu ketika penulis mencabut satu helai jenggotnya. Rekan berjenggot ini berseloroh bahwa satu calon bidadari-nya di surga gugur karena ulah jahil penulis. MasyaAllah, sebegitu tidak relanya rekan penulis kehilangan satu bidadari, padahal ada ratusan helai jenggot yang masih bergelantungan di dagunya. Kalau saja anekdot ini benar, penulis tidak bisa bayangkan ada ratusan bidadari yang mengelilinginya nanti. Ungkapan ini penulis sebut anekdot, karena hingga saat ini belum menemukan ayat atau hadits yang membenarkannya.Bayangkan berapa ratus bidadari yang akan dampingi dia surga

Bagi kaum hawa, anekdot ini merupakan malapetaka terhadap dirinya. Saran penulis, setiap perempuan harus mewaspadai para lelakinya yang berjenggot. Berikan pertanyaan kepadanya kenapa ia memelihara jenggotnya. Jika seorang lelaki menjawab untuk mendapatkan bidadari di surga, itulah malapateka. Bagaimana hal ini menjadi malapetaka bagi perempuan?. Di masa hidupnya di dunia , lelaki berjenggot ini telah menempatkan perempuannya tidak pada tempat yang ia mulyakan, yaitu surga. Ia dengan terang benderang mencita-citakan keberadaan bidadari-bidadari cantik yang menyambutnya dan menemaninya selama di surga. Mungkin tidak ada terfikir bahwa istrinya menjadi salah satu bidadari baginya di surga. Bayangkan wahai para kaum hawa, setiap hari lelaki berjenggot ini tersenyum sumringah ketika membelai helai demi helai jenggotnya. Senyum sumringahnya bukan oleh karena pelayanan seorang istri terhadapnya, akan tetapi karena kebanggaannya terhadap jenggot-jenggotnya. Dengan bangga ia berkata di dalam hati, inilah calon bidadari-bidadarinya di surga.

Mengakhiri artikel ini, penulis berharap kepada para Jenggoters untuk meluruskan niatnya. Berniatlah segala amal yang kita lakukan apalagi yang bersifat sunah semata-mata karena ridha Allah, bukan karena para bidadari-bidadari cantik yang kalian harapkan. Ridha Allah hanya kita dapatkan setelah kita menyadari bahwa setiap amal kita bernilai kemaslahatan bagi diri sendiri dan orang lain. Beribadah bukan untuk menyelamatkan diri sendiri dari api neraka, dan masuk surga seorang diri. Beribadahlah karena satu kehendak dimana kita semua berada di dalam surga. Penulispun ungkapkan permohonan maaf jika para jenggoters disidang oleh istrinya masing-masing karena artikel ini.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344