Ahok lebih populer dibandingkan gerhana matahari adalah suatu kenyataan. Fenomena gerhana matahari memang menggemparkan dunia dalam kurun sepekan menjelang dan pasca berlangsungnya. Akan tetapi fenomena Ahok sang Gubernur DKI seakan tiada habisnya.  Sejak ia diangkat menjadi Gubernur DKI pada November 2014, bahkan sejak menjabat sebagai wakil dari  Jokowi hingga saat ini, pemberitaan tentang dirinya tidak pernah surut. Benar saja, dari sebelum tidur, bangun tidur, bahkan menjelang tidur lagi namanya terus menerus meramaikan timeline “dinding” laman sosial media pada gadget smartphone kita.

Benang merah dan benang biru fenomena Ahok ialah karena pemilik nama Basuki Cahya Purnama ini seorang keturunan Cina dan beragama Nasrani menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta yang mayoritas penduduknya adalah pribumi dan Muslim. Katakanlah jabatan Ahok saat ini merupakan faktor luck “Keberuntungan” karena Jokowi naik tahta menjadi presiden dan dia lah yang berhak menggantikannya. Akan tetapi bagaimana jika apa yang disebut-sebut oleh analis-analis politik lawan Ahok itu benar, bahwa ini semua merupakan grand desain yang telah disiapkan secara rapi oleh mafia politik. Wallahu ‘alam, sebaiknya kita tidak perlu menanggapi analisis menduga-duga yang entah kebenarannya.

Bagi umat Muslim, fenomena Ahok ini tidak hanya seperti menampar pipi kita, akan tetapi lebih seperti menusuk ulu hati dengan sebilah pisau yang berkarat. Tidak hanya perih yang kita rasa, akan tetapi juga meninggalkan luka lainnya. Fenomena ini memang merupakan aib bagi umat Islam. Kita harus malu sebagai mayoritas masyarakat namun gagal menjadikan wakil terbaik kita untuk dapat memimpin ibu kota. Bukannya intropeksi diri, sebagian umat Islam justru menyalahkan kelompok umat Islam lainnya yang telah memilih Jokowi-Ahok menjadi pasangan Gubernur pada 2012 silam.

Meski Pilkda baru akan dihelat pada 2017 mendatang, umat Islam sudah kembali heboh di media sosial, karena Koh Ahok resmi mengajukan diri nya sebagai bos di ibu kota pada periode mendatang. Bagiamana pandangan Islam terhadap pemimpin non muslim menjadi tema yang hangat diperbicangkan kembali. Adu argumentasi antara umat Islam sendiri sudah pada ranah yang mengkhawatirkan, bahkan telah terjadi pengkafiran antar umat. Perbedaan sikap dalam hal ini memang sulit untuk disatu suarakan, karena memang pondasi cara pandang masing-masing sudah berbeda.

Daripada antar umat Islam saling bertengkar, lebih baik intropeksi diri bahwa fenomena Ahok ini merupakan kesalahan kita. Kesalahan pertama yaitu tidak ada di antara kita yang layak dan cakap menjadi pemimpin sebagaimana Al-qur’an dan Hadits menuntun kita. Justru pemimpin idaman yang digambarkan Islam lebih tercermin pada kepemimpinan Ahok yang non Islam. Kesalahan kedua yaitu, kita salah memilih pemimpin-pemimpin ber KTP Islam bahkan berlatar belakang Ulama, namun dalam kepemimpinan mereka justru menyimpang dari ajaran Islam. Tidak sedikit dari mereka terlibat dalam skandal korupsi, asusila, dan membuat kebijakan-kebijakan yang lebih pro pada cukong daripada kepada rakyat miskin. Hal seperti inilah yang membuat umat Islam dan masyarakat Indonesia sudah muak dengan politik berdasarkan ideologi partai politik.

Catat, bahwa sebagian besar umat Islam tidak membutuhkan dalil dari ustad atau ulama untuk memilih atau  tidak memilih pemimpin non-Muslim. Umat Islam saat ini sedang membutuhkan pemimpin alternatif yang teruji kepemimpinannya seperti Ahok. Jangan salahkan umat  jika orang seperti Ahok menjadi pilihan mayoritas pada Pilkada mendatang. Bagi mereka dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunah Nabi tidak lebih masuk akal dibandingkan pilihan; mana yang lebih baik antara pemimpin non muslim yang amanah dan pemimpin muslim namun dlalalah.

Kondisi ini merupakan PR “pekerjaan rumah” umat Islam yakni mendidik anak-anak kita dan anak didik kita untuk menjadi generasi pioner. Generasi yang santun, toleran, dan kreatif harus dibentuk dari sekarang agar pada masa-masa mendatang agar umat Islam tidak kalah bersaing atau paling tidak dapat menyelaraskan kehidupannya dengan perkembangan yang ada pada nantinya. Para ustad jangan lagi mengajarkan kepada anak didiknya bahwa apa yang diajarkan adalah yang paling benar, sehingga saat mereka dewasa dapat menghormati perbedaan umat Islam lainnya dan dengannya persatuan umat dapat terwujud.

Istilah umat Islam yang saya pakai dan mungkin orang lain pakai bisa jadi berbeda. Bisa jadi saya dan sebagian besar umat Islam lainnya tidak dianggap sebagai bagian dari Umat Islam karena tidak sepemikiran dengan umat Islam lain. Bisa jadi saya dan sebagian besar umat Islam lainny tidak dianggap sebagai bagian dari umat Islam  karena penafsiran terhadap segelintir ayat Al-Qur'an berbeda dengan umat Islam lain. Ingat bahwa rukun Islam ada lima, rukun iman ada enam dan saya melaksanakannya. Tidak satupun rukun Islam dan rukun Iman yang menyebutkan harus satu pemikiran dengan umat Islam lainnya.

Diskusi bahwa perdebatan mengenai fenomena Ahok ini memang seakan-akan memaksa kita untuk memilih pro atau kontra Ahok. Penulis sendiri seorang muslim dan tidak akan memilih ahok. Alasan pemilih untuk menentukan sikap tersebut hanya satu, yaitu Penulis bukan warga DKI Jakarta, tinggal di Tangerang Selatan ber-KTP Kalimantan Selatan. Jadi jelas tidak mungkin memilih Ahok pada Pilkada mendatang. Kalaupun saya harus memilih, tentunya saya akan memilih Pemimpin Muslim yang Amanah jika kriteria tersebut ada pada saat Pasangan Calon resmi diumumkan nantinya.  Sekian  

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344