Artikel ini adalah seri pertama “Futuhul Ghaib” Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Penulis lebih senang memakai terminologi “mukmin” daripada “muslim” karena memandang gentingnya suasana batin umat akhir-akhir ini yang sering kali meng-“kufur” kan saudara seimannya hanya karena perbedaan pendapat. Hanya karena penulis mencintai tasawuf lantas mereka yang juga sesama muslim mengkafirkan penulis. Atau dalam kasus terhangat, hanya karena pandangan ke-Islaman yang furu’iyat lantas saling mengkafirkan.

Dalam karya Syaikh Abdul Qadir jailani disebutkan paling tidak ada tiga kewajiban kita sebagai mukmin, yaitu;  mematuhi dan melaksanakan perintah-Nya, menghindari larangan-Nya, dan ridha atas ketetapan-Nya.

Tiga kewajiban di atas saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Terutama dalam perintah dan larangan, umat terlalu berhati-hati. Di satu sisi ada yang berhati-hati dengan membid’ahkan segala yang tidak ada di zaman nabi. Di satu sisi lainnya terlalu berhati-hati dalam mencegah hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt. Sehingga yang terjadi umat Islam, dan bahkan umat beragama lain sering tertimpa gelar “manusia-manusia kolot” oleh mereka yang komunis.

Tumpuan dari tiga kewajiban utama ini pada titik dimana keridaan atas ketetapan Allah Swt. Keridaan bahkan harus menjadi tujuan dalam setiap ibadah kita kepada Allah. Bukan hanya ibadah ritualisasi seperti shalat, puasa dan zakat saja yang dimaksud akan tetapi seluruh ibadah yang di masjid besar Allah yaitu pada alam semesta ini. Ibadah-ibadah tersebut meliputi apa yang kita kerjakan diluar ritual, seperti bekerja dan bersosialisasi dengan makhluk Allah Swt lainnya.

Dengan keridaan, setiap apa yang kita kerjakan tidak lagi diukur dari besarnya pahala atau dosa, masuk surga atau neraka, dapat honor atau cacian makian saja, akan tetapi hanya karena Allah Swt. Kerja yang kita lakukan untuk menghidupi keluarga karena hal itu adalah perintah Allah Swt. Begitupun dengan pembelaan-pembelaan kita kepada Allah Swt tidak bisa dilakukan karena ada kepentingan dunia sekecil apapun di dalam hati.

Faktanya, umat ini seringkali tidak ridha atas apa yang ditetapkan oleh Allah Swt. Seorang mukmin yang jatuh miskin dan terpuruk kondisinya bisa mendekatkan dirinya pada kekufuran. Bagaimana kalau kondisi ini terjadi secara masif?. Masyarakat miskin di suatu wilayah bisa jadi sepakat kufur berjamaah mengadili umara’ terpilih secara dhalim?. Bukankah tindakan ini juga mengkari ketetapan Allah, yang berarti juga menjadikannya sebagai seorang kufur?.

Sangat penting bagi kita menempatkan diri pada level “ridha” atas ketetapan Allah ini. Meskipun ridha tidak sama dengan “tawakal” yang juga tak sama dengan “pasrah” atas kondisi kehidupan. Ada banyak ayat Al-Qur’an yang menuntun kita untuk bekerja, berfikir, dan berinovasi.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344