Dunia semakin kacau balau. Hal ini tercermin dari kehidupan yang diperankan oleh manusia yang seolah berkuasa atas masa depannya. Perintah Allah jelas bagi manusia untuk merawat dunia ini, akan tetapi yang ada justru menghancurkannya. Tidak benar jika manusia melakukannya dengan tanpa kesadaran, justru dengan sesadarnya. Lantas kenapa manusia dengan sadar melakukannya.

Pangkal dari kerusakan manusia adalah sifat ke-setanan yang ada di dalam dirinya. Iblis si makhluk Allah yang munkar telah berhasil meyakinkan manusia untuk bersekutu melalui sifat kesetanannya. Bahkan tak sedikit darinya yang secara tidak langsung berbait kepada Iblis untuk menjadikan sifat setan sebagai jalan kehidupannya.

Manusia dicipta oleh Allah dari tanah, adapun Iblis tercipta dari api. Pada prinsipnya Iblis adalah bagian dari jenis Jin yang sama-sama terbuat dari api yang panas. Diantara Jin ada yang taat dan begitu pun sebaliknya, sebagaimana terungkap dalam surah al-Jin ayat 11. Jin yang taat kepada Allah diantaranya yang mengabdi menjadi tentara Nabi Sulaiman sebagaimana terangkum dalam Surah Saba’ ayat 12 hingga 13. Sementara yang munkar adalah mereka yang menginkari perintah Allah untuk sujud kepada Adam (manusia) yang tercipta dari tanah.

Dengan modal penangguhan usia dari Allah, Iblis bertekad menjerumuskan Adam dan anak cucunya ke dalam kubangan kehidupan yang kelam hingga akhir dunia. Hal ini setidaknya terekam dalam surah Al-A’raf ayat 16-17. Mereka mendatangi kita kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun caranya. Namun tidak banyak manusia yang menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah cara-cara setan dan bahkan diantaranya berkelabu di balik tabir kebaikan.

Sesuatu yang dianggap perkara baik oleh seorang manusia bisa jadi sejatinya adalah suatu keburukan yang disembunyikan oleh karena sifat setan di dalam dirinya. Begitupun sebaliknya, sifat setan akan menyangkal suatu yang baik dan menilai dengan sesuatu di sebalik keasliannya.

Manusia yang beruntung dalam hal ini  adalah mereka yang berhati-hati dalam setiap langkah kehidupannya. Ia menimbang dengan kehati-hatian sehingga ia yakin tiada tabir apapun setiap perilakunya. Mereka yang buntung adalah mereka yang tergesa-gesa dalam bertindak tanpa menimbang sebab dan akibatnya, tidak hanya kepada dirinya juga kepada orang lain. Mereka yang beruntung dari sebagian yang buntung adalah mereka yang menyesali sifat setan yang ada di dalam dirinya, takut dan was-was akan adzab dan dosa kepada Allah, serta bertaubat dengan sebenar-benarnya.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344