Tidak kah kita Lihat perang dimana-dimana dan kapan saja dan tiada tampak penghujungnya. Dari perang opini hingga perang dengan kekuasaan dan adidaya. Tersulut amarah personal, ras, suku dan budaya, negara, dan oleh karena agama, bahkan gesekan dalam satu agama.

Sebagian besar dari kita mungkin lupa atau bahkan tidak tahu bahwa kita punya tugas besar untuk menjaga keutuhan dunia dengan persatuan dan kesatuan. Persatuan melahirkan perdamaian. Persatuan tidak akan melahirkan pertikaian apalagi peperangan. Persatuan hanya melahirkan keadilan, kemakmuran, dan ketentramana. Sementara pertiakan hanya melahirkan kehancuran. Sementara kehancuran adalah suatu hal yang dibenci oleh Allah pemilik Qada’ dan Qadar.

Mereka yang memilih berselisih adalah mereka yang tak tahu setiap esensi ayat al-Qur’an. Mengenyampingkan pesan-pesan perdamaian karena kepentingan personal ataupun golongan, bukannya untuk kepentingan kemanusiaan. Sementara ada banyak kesamaan untuk mewujudkan perdamaian, namun banyak yang mengedepankan perbedaan untuk berselisih paham.

Setiap individu manusia di muka bumi ini harus sadar bahwa mereka dituntut bersatu agar tercipta pedamaian. Sehingga setiap negara dan bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk membangun peradaban. Tidak kah sudah jelas bahwa perselisihan antar bangsa dipicu oleh kepentingan politik yang mana ekonomi adalah tujuan sebenarnya. Lihatlah fakta perebutan ladang minyak di tengah konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai.

Setiap individu masyarakat Indonesia harus sadar bahwa mereka dituntut bersatu sebagaimana pasal ketiga Pancasila “Persatuan Indonesia”. Hal ini perlu disadari jika kita merasa sebagai warga negara Indonesia. Kesadara ini penting mengingat banyak pihak yang seringkali menggadaikan ke-Indonesiaannya untuk kepentingan tertentu. Setiap konflik yang berbenturan antara masyarakat harus dipandang dari sisi ke-Indonesia-annya bukan dari agamanya, atau bahkan sukunya, apalagi karena haluan politiknya. Perselisihan dalam urusan agama, suku atau politik jangan sampai menimbulkan gesekan horizonatal yang menyebabkan perpecahan. Kalau perselisihan tidak bisa dihindari, cukupkan pada perselihan opini. Antara pihak terselisih harus saling menghormati tanpa mencaci maki. Memang diantara kita banyak perbedaan tapi kita berdiri di bawah bendera yang sama Indonesia.

Begitupun kita sebagai umat Islam khususnya yang ada Indonesia dituntut untuk bersatu sebagai umat. Umat pemeluk agama lain sudah membangun dan mencetak kader-kader umat pioneer sementara kita masih terjebak pada persoalan khilafiyah. Kita harus akui dalam Islam banyak lahir madzhab, namun kita tetap satu yaitu umat Islam yang harusnya tak terpecahkan. Diantara kita bisa jadi saling berselisih paham namun seyogyanya kita saling menghormati pemahaman yang lain. Sikap kita menghormati pendapat orang lain bukan berarti kita sepakat dan setuju atas pemikirannya akan tetapi dengannya umat ini akan tetap bersatu.

Ada banyak sekali perbedaan dalam keberagaman kita, akan tetapi persamaannya jauh lebih banyak. Banyak hal yang bisa menjadikan umat ini terurai berai akan tetapi yang dapat menyatukan umat ini jauh lebih banyak. Daripada kita saling mengkafirkan lebih baik kita saling meng-Islamkan. Daripada kita saling mengutuk sebagian lainya menjadi ahli neraka, alangkah lebih baik kalau kita saling mendoakan agar semua umat ini mendapatkan tiket untuk masuk ke dalam surga.

 

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344