Pengalaman hidup merupakan pengetahuan penting yang harus dijadikan sebagai pemebelajaran. Salah satu pengalaman yang tidak terlupakan oleh penulis adalah yang berkaitan dengan keagamaan di Mesir.

Di suatu hari Juma’at pada musim dingin, penulis menyambangi kota Alexandria, di bibir pantai utara Mesir. Kebtulan saat itu sedang mendampingi beberapa pejabat dari Kementerian Pendidikan Indonesia yang sedang monitoring tahunan di KBRI Cairo. Saat memasuki waktu shalat Jum’at penulis bergegas mencari masjid di sekitar pantai. Dari jauh terdengar suara doa-doa dengan pemulaan kalimat “Allhumma”, dan kalimat  “Amiin” sebagai jawabannya. Penulis menemukan sumber suara tersebut dari Saqah yang berada di lantai Ground dan bergegas menghampirinya. Saat penulis menanyakan tempat wudhu ke salah satu jamaah, ia lantas menegurnya “yabni, dzi kanisah”. Ternyata penulis masuk ke Gereja.

Sebelum mendapat jawaban tersebut penulis sama sekali tidak menyangka kalau bangunan tersebut adalah sebuah Gereja. Paling tidak dari ornament di luar bangunan juga ada lambang Allah, namun penulis baru menyadari bahwa ada lambang Salib yang besar dan luput membaca papan الكنيسة  yang bermakna Gereja. Begitupun pertama yang disadari pertama adalah kursi yang biasanya di masjid-masjid di Mesir disediakan bagi jamaah yang telah berumur dan cacat. Yang tidak penulis sadari adalah rangkaian kursi tersebut ternyata sampai ke depan mimbar.

Begitupun dengan bacaan doanya. Doa yang dibacakan dan jawaban dari jamaah benar-benar menutupi prasangka penulis bahwa sebenarnya ia sedang di dalam gereja. Doa yang dibacakan mirip dengan yang kita bacakan, terlebih memang bahasa mereka juga bahasa Arab. Benda-benda simbolis dan kalimat-kalimat yang dipajang juga menggunakan bahasa Arab. Bahkan nama Allah pun tentu tidak luput dari oranament di dalam gereja tersebut.

Di luar pengalaman Gereja yang seperti Masjid di atas ada lagi pengalaman menarik. Bagi mahasiswa Al-Azhar sering menjumpai warga mesir membaca Kitab Suci di dalam bus kota. Mereka membacanya, baik dalam keadaan duduk maupun berdiri. Namun jangan salah sangka tidak semua dari mereka itu umat Islam. Diantara adalah umat Kristen Koptik yang membaca Kitab Agabea.

Baru-baru ini tersiar sebuah berita dimana di sebuah hotel di kawasan Jambi membuat miniatur Gereja yang dipamerkan di dalam hotel tersebut. Di dalam miniatur gereja tersebut terdapat bangunan gereja itu sendiri dan miniatur taman di depannya. Pada taman tersebut ada tulisan kalimat Allah dalam bahasa Arab. Kejadian ini diberitakan dengan judul dan konten dengan frame penistaan kepada Agama Islam dengan meletakkan lafadz Allah pada oranament Natal mereka. Betulkah ini ranah penistaan.

Penulis menyatakan bahwa apa yang terjadi di Jambi sama sekali tidak masuk dalam kategori penistaan. Umat Islam harus tahu bahwa Allah itu bukan hanya Tuhan kita, umat Nasrani dari sekte apapun mengakui Allah sebagai Tuhan dalam konsep trinititasnya. Sehingga ketersinggungan kita sebagai umat Islam tidak mendasar. Klaim kita bahwa mereka menistakan Islam juga berarti tidak mendasar dan berangkat dari kurangnya pengetahuan.

Dipandang dari letak penempatan lafadz Allah, ada yang mengatakan bahwa lafadz tersebut berada di keset gereja. Tidak benar, dalam miniatur gereja tersebut, lafadz Allah berada di taman. Yang artinya kalau miniatur tersebut diwujudkan dalam suatu bangunan maka lafadz Allah diaplikasikan dalam bentuk tanaman bunga yang tata letaknya dipolakan sesuai lafadz Allah, dan itu adalah sesuatu yang indah.

Kalaupun miniatur tersebut layak dipermasalahkan, bisa dilihat dari lokasi peletakan keseluruhan miniatur tersebut. Harusnya manajemen hotel meletakan semua miniaturnya di tempat yang lebih tinggi, sebagaimana miniatur-miniatur project sebuah bangunan pada umumnya. Jangan diletakkan di lantai dimana ada kesejajaran antara kaki dan lafadz Allah. Begitupun langkah yang diambil oleh pemerintah cukup mengarahkannya untuk memindah pada tempat yang lebih tinggi, bukan menutup hotelnya. Kebijakan harus melihat manfaat dan madharatnya, bukan emosionalnya.

Sebelum mengakhiri artikel ini, penulis ingin sampaikan beberapa pesan. Pertama, artikel ini tidak sama sekali dalam kepentingan membela umat Nasrani atau sebaliknya. Kedua, artikel ini ditunjukan untuk umat Islam agar menambah ilmu pengetahuan terutama dalam keberagamaan dan keberagaman dalam beragama kita. Ketiga, Ketidaktahuan kita dapat menjadi bumerang kepada umat kita sendiri. Wallahu a’lam.

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344