I. Kehancuran dan Perpecahan Dunia Islam

Sebelum minyak ditemukan pada pertengahan abad ke 20, kawasan ini silih berganti diperebutkan dan diduduki oleh imperalisme dunia.

Bukan sebagai kawasan subur, dan berlimpah sumber daya alam, akan tetapi yang menarik di kawasan ini terdapat tempat-tempat suci bagi agama-agama samawi (agama langit; Yahudi, Kristen dan Islam) yang berlokasi di Jerusalem dan Hijaz (Mekah dan Madinah). Sebut saja pertikain panjang antara Yahudi dan Romawi pada sebelum dan sesudah Masehi, bahkan Yesus-pun disalib di Jerusalem oleh penguasa Romawi pada saat itu. Setelah memasuki peradaban Islam, kawasan Timur tengah semakin hangat dengan adanya konflik baru antara Islam dan Kristen yang meruncing dengan terjadinya perang salib.

Memang benar, penyebab utama pertikaian dunia Arab (Islam) dan Eropa (kristen) adalah perebutan wilayah suci ini. Akan tetapi perlu dicatat bahwa pada kenyataannya perang salib secara khusus menggambarkan reaksi orang Kristen di Eropa terhadap Muslim di Timur Tengah yang telah menguasai wilayah Kristen sejak 632 M, tidak hanya di Suriah (Jerusalem) dan Asia Kecil, tetapi juga di Sisilia dan Spanyol. Sebab lanjutannya; walaupun pada akhirnya di bawah panji-panji Islam, umat kristiani dan Yahudi diberi kebebasan untuk beribadah dan berziarah di kawasan tersebut, akan tetapi orang-orang Eropa merasa keberatan untuk melewati wilayah Muslim di Asia kecil [1]. Kemudian sebab-sebab lain bahkan yang tak sejalur dengan niat awalpun bermunculan sebagai sebab meletusnya perang salib episode-episode selanjutnya. Sampai pada akhirnya tentara salib terakhir dibubarkan oleh Napoleon Bonaparte pada abad 18.

Berakhirnya perang salib dengan kembalinya sebagian besar wilayah Islam di Eropa ke tangan Kristiani, serta luka kehancuran dan kemunduran dunia Islam yang pada dinahkodai oleh dinasti Turki Utsmani, bisa dikatakan berakhir pula perseteruan kedua agama. Episode perseteruan antara Islam yang berpusat pada pemerintahan dinasti Usmani dan Kristen yang berusat pada pemerintahan kepausan meninggalkan bekas di kedua belah pihak.

Di sisi lain, perseteruan dua kawasan dengan dua simbol agama berbeda tersebut meninggalkan jejak pertukaran dan pembauran peradaban yang saling terkait. Pengaruh budaya Islam arab nampak di wilayah Eropa dimana Islam pernah berpijak. Akan tetapi, penetrasi peradaban Eropa lebih meninggalkan jejak, utamanya dibidang moral, spiritual, dan berbagai nilai sistem serta segala sesuatu yang bersifat fisik sangat merugikan umat Islam

Di Eropa, Selama perang salib berlangsung, perkembangan birokrasi pemerintah yang tadinya dikontrol oleh dominasi pemerintahan kepausan, lambat laun sejak abad 14 lepas dan bergulir atas dasar negara-bangsa, dengan Inggris dan Perancis sebagai pelopornya. Khususnya di Perancis, raja menjadi begitu kuat sehingga ia dapat mempersatukan negaranya. Sejajar dengan perkembangan ini pengaruh paus menurun. Paus sebagai pemimpin rohani dan politik dalam perang-perang Salib kehilangan prestise karena perang-perang Salib setelah yang petama gagal[2].

Sementara itu pada abad 16, kawasan dunia Islam yang tadinya dapat dipersatukan dibawah komando kesultanan Usmani di masa keemasannya; Sulaiman al Qanuni (1522) dengan multaqa al Abhur sebagai kitab perundang-undangnya lambat laun bercerai berai, jatuh dan diperebutkan oleh penguasa-penguasa lokal. Disisi lain, pasca Sulaiman al Qanuni, Usmani menghadapi tantangan dari dua kekuatan tetangga, yaitu Eropa dan Dinasti Shafawi di Asia (syiah)[3].

kemajuan peradaban Eropa pada masa itu, utamanya bidang pemerintahannya menjadi perhatian penting bagi dunia Islam. Dengan gerakan Renansiance-nya Eropa berhasil bangkit dengan mendobrak dogma gereja yang telah menghegemoni masyarakat Eropa. Selain itu, setelah benua Amerika dan Tanjung harahap ditemukan, Eropa membuka daerah-daerah baru sebagai perluasan dan menjadikan laut sebagai jalan raya, sehingga perekenomian mereka bangkit. Kemajuan Eropa semakin dipercepat dengan ditemukannya beberbagai ilmu pengetahuan, salah satunya mesin uap yang kemudian melahirkan revolusi industri, teknologi perkapalan dan militer juga berkembang dengan pesat. Eropa berkembang menjadi penguasa lautan, melakukan kegiatan ekonomi dengan cara berdagang tanpa hambatan dan kemudian menjadikan eropa melampaui kemajuan Islam[4].

Berbeda dengan kemajuan Eropa yang berhasil dicapai dengan cara melepaskan diri dari hegemoni kepausan, dunia Islam justru mengalami kemunduran setelah lambat laun meninggalkan sistem pemerintahan Islam. Kemajuan Eropa masa renansiance menginspirasi penguasa Islam saat itu; dalam hal ini imperium Usmani dengan mengirimkan duta besarnya ke negara-negara eropa guna mengamati lebih dekat kemajuan Eropa di berbagai bidang dan guna melakukan pembaharuan di dalam negeri. Aksi awal pembaharuan ini lahir dari golongan modernis yang berkehendak mengadopsi beberapa metode Eropa untuk pelatihan pengorganisasian administrasi pemerintah dan militer, sistem ekonomi dan pendidikan. Gerakan kaum modernis ini mendapat tantangan dari golongan restorasionis yang lebih mengajak pemberlakuan kembali undang-undang (qanun) Sulaiman al Qanuni dan menentang setiap intervensi Eropa[5]. Walaupun pada akhirnya kaum modernis mendominasi gerakan pembaharuan di tubuh Imperium Usmani, akan tetapi misi mereka bisa utama mereka dibilang gagal, karena pada akhirnya dunia Islam justru tidak lagi bisa disatukan di bawah satu pemerintahan seperti yang terjadi pada abad keemasannya dibawah naungan Sulaiman al Qanuni yang menerapkan sistem Pemerintahan Islam.

Dengan tekanan eksternal dari Eropa dan semakin melemahnya kecakapan internal, Usmani memilih mempertahankan wilayah yang telah mereka dapat daripada mendapatkan yang lebih. Dalam kondisi ini, kerajaan yang secara umum diantur untuk menghadapi peperangan ketimbang memakmurkan rakyatnya dan membangun kawasan terjangkau dengan perangkat komunikasinya baik. Juga, populasi heterogen di antara kawasan, kelompok dan ras yang berbeda memunculkan garis perpecahan internal yang kentara jelas antara golongan Muslim dan Kristen, bahkan antara muslim Turki dan muslim Arab serta antara sekte-sekte Kristen menjadikan kerajaan ini lahan subur bagi tumbuhnya bibit kehancuran yang mengikis sendi-sendi kehancuran kerajaan Usmani[6].

II. Kolonialisme dan Imperalisme Eropa Terhadap Dunia Islam

Kolonialisme berasal dari kata colonus yang berarti “petani”. Istlah colonus diberikan kepada para petani Yunani yang semula mempunyai lahan tandus berpindah ke lahan subur. Kata koloni kemudian berkembang menjadi kolonisasi yang berarti tindakan menguasai wilayah tertentu. Adapun Imperlisme berasal dari kata latin imperere yang berarti menguasai dan memerintah. Imperalisme berarti sistem atau paham kekuasaan yang bertujuan menguasai atau menjajah negeri lain untuk mendapatkan keuntungan besar[7]. Walaupun kedua istilah ini berasal dari kata berbeda, akan tetapi pada praktiknya memiliki tujuan yang sama, yaitu penguasaan atau penjajahan satu wilayah.

Dengan pengertian tersebut, bisa dikatakan bahwa dalam proses peradaban antara dunia Islam dan Eropa sama-sama saling memerankan dirinya sebagai subjek kolonialisme dan imperalisme dan sama-sama menjadi objeknya. Di zaman yang lebih klasik lagi, kolonialisme terjadi pada saat kekaisaran romawi yang berhasil melebarkan wilayah jajahannya hingga Armenia dan laut Atlantik. Sistem penguasaannya ditandai dengan kewajiban daerah kooloni membayar pajak dan upeti kepada kerajaan pusat.

Sistem kolonial zaman klasik berbeda dengan kolonialisme zaman modern yang diprakarsai oleh eropa. Kolonialisme modern ditandai oleh dua ciri yaitu: (a) daerah-daerah koloni tidak hanya membayar upeti, tetapi struktur perekonomian daerah koloni baik SDM dan SDA-nya dirombak demi kepentingan negara induk, dan (b) daerah daerah koloni menjadi pasar yang dipaksa mengonsumsi produk produk negara induk. Dalam kolonialisme modern, kemampuan manusia dan sumber daya alam dari daerah koloni dialirkan sehingga keuntungganya oleh sistem yang berjalan akan selalu kembali atau mengalir ke negeri induk. Dengan sistem perekonomian seperti itu dapat dipahami bahwa sistem perekonomian kolonial sangat berperan dalam menumbuhkan kapitalisme dan industri Eropa. Dengan kata lain, kolonialisme menjadi bidan yang membantu kelahiran kapitalisme Eropa[8].

Faktor pendorong penjelajahan kolonialisme antara lain disebabkan jatuhnya Konstantinopel, ibu kota imperium Romawi timur ke tangan Dinasti Usmani, juga adanya semangat penaklukan terhadap orang orang yang beragama Islam. Lebih jauh, faktor lain kolonialisme dan imperalisme Eripa erat kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimulai sejak renaissance serta terjadinya revolusi industri yang mendorong negara-negara Industri di Eropa berlomba-lomba untuk mencari pemasaran hasil industrinya.

Kolonialisme berawal dari usaha migrasi penduduk Eropa ke daerah-daerah jajahan dan kemudian daerah tesebut diklaim atau diakui sebagai daerah milik mereka yang “menemukan” yang diikuti dengan penguasaan politik atas wilayahnya. Lebih menekan lagi, kolonialisasi kemudian melakukan hegemoni atau dominasi serta pemaksaan kekuasan politik atas wilayah tersebut, serta memaksakan ada istiadat dan kebudayaan yang dibawanya[9]. Seperti motto kolonialisme yang berbunyi Gold, Gospel dan Glorry.

Salah satu kawasan tujuan kolonialisme Eropa adalah kawasan Timur Tengah yang pada saat itu dibawah kekuasaan turki Usmani dengan panji-panji Islamnya. Selain kawasan ini dekat dengan Eropa dan jauh dari ibukota penguasa Islam di Turki, bisa dikatakan bahwa kedatangan negara-negara Eropa ke kawasan ini sebagai perpanjangan perang Salib dengan cara yang berbeda. Bangsa Eropa datang dan berhasil berbaur dengan simbol kemajuannya ke kawasan Islam yang selama perang Salib berlangsung mengalami kemandegan. Dengan penetrasi budaya modernisasi secara perlahan-lahan, bangsa Eropa berhasil menduduki kawasan Islam dan mengaduk-ngaduk sistem masyrakatnya, sehingga melepaskan diri mereka dari kekuasaan Usmani yang juga lambat laun digergoti oleh modernisasi.

Kawasan Berber

Wilayah afrika utara yang jaraknya dekat lebih dekat dengan Eropa selatan dibanding dengan pusat dan jantung Islam di Asia barat merupakan wilayah yang pertama lepas dari kekuasaan usmani. Di wilayah ini, tradisi Islam lemah, serta proporsi keturunan Berber dan Eropa yang lebih banyak membuat penduduknya bertindak mandiri. Sebut saja Al jazair, yang pertama kali memisahkan diri dari Usmani yang ditandai dengan perebutan wilayah oleh Perancis sebagai wilayah perpanjangan atau jajahan pada tahun 1830 M dan diperpanjang wilayahnya ke Tunisia pada tahun 1881. Dalam windu berikutnya, sejak 1991 perancis juga berupaya menaklukan Maroko yang pernah menjadi kerajaan Arab Berber, dan menjadi daerah kekuasaan Perancis sejak 1907 hingga 1912 M.

Sementara itu, kawasan Tripolitania (sekarang Libya) sebagai pos terakhir di antara Negara-negara berber menjadi daerah jajahan Italia yang kemudian digabung dengan Siranikus menjadi Negara Libya-Italia pada tahun 1934. Namun pada perang dunia ke II, pasukan Inggris, Perancis dan Kekuatan Pribumi berhasil memukul mundur Italia yang dibantu oleh Jerman[10].

Mesir

Sementara itu, di Mesir, Perancis juga melakukan ekspansi pada saat para pemimpin Mamluk berselisih untuk mendapatkan kekuasaannya. Perancis yang dinahkodai sang penakluk hebat, Napoleon Bonaparte mendaratkan pasukannya pada juli 1798. Tak berlangsung lama, pada maret 1801 Bonaparte dipaksa mundur dan mengevakuasi pasukannya dari Iskandariyah oleh pasukan Inggris yang mempunyai kepentingan atas wilayah Mesir sebagai jalur komunikasi ekspedisinya ke semenanjung Arab.

Pada masa Muhammad ‘Ali (pejabat militer Usmani yang berperan besar dalam mengusir Napoleon dari Mesir) menjadi penguasa tunggal wilayah ini. Ia menetapkan kebijakan-kebijakan modernisasi hasil persentuhan budaya yang dibawa Napoleon Bonaperte di kawasannya. Ia mendirkan lembaga dan departemen pendidikan modern dengan sebagian guru besarnya didatangkan dari Perancis. Dalam catatan sejarah, pada masanya ia mengirimkan 311 mahasiswa Mesir ke Italia, Perancis, Inggris dan Austria atas biaya pemerintah[11], seperti yang dilakukan oleh turki Usmani. Dalam aspek ekonoomi ia menetapkan penetapan baru dengan menggali terusan suez dan menerapkan produk unggulan seperti pengolahan kapas dari India dan Sudan. Akan tetapi, Cucunya, ‘Abbas (1848-1854) dan Sa`ed (1854-1863) memecat semua penasehat asing dan menghapus semua sekolah asing serta institusi-institusi lain berciri Eropa dan mencela adat kebiasaan Barat. Akan tetapi pada masa Ismail (1863-1878) Mesir kembali memperkerjakan asing (perwira militer Amerika) dan mendirikan sekolah perempuan untuk pertama kalinya. Bahkan, atas simpatinya kepada dunia barat diekspresikan dalam sebuah deklarasi bahwa Mesir bagian dari Eropa[12].

Pembukaan terusan Suez pada tahun 1869 meningkatkan kepentingan strategis negeri ini dan mempercepat masuknya kembali Mesir ke dalam arena pedagangan internasional, sekaligus menjadikanya bagian integral dari jalur sibuk komunikasi Internasional yang sebelumnya ditempuh melalui rute tanjung harapan. Penggalian terusan yang memisahkan antara Asia dan Afrika ini menghabiskan biaya £20.000.000 yang sebagian besar didapatkan dengan cara meningkatkan abonemen rakyat Eropa-utamanya Perancis dan 176.602 saham senilai masing-masing £ 20 dibeli oleh Inggris dari tangan Ismâ`îl. Pada saat bersamaan, keroyalan dan keborosan Ismâ`il dalam pemerintahannya membawa negeri ini ke dalam keberangkutan dan menarik intervensi Eropa, utamanya dalam pengawasan bersama Terusan Suez oleh Inggris, Perancis dan sang Khediv (sebutan bagi penguasa yang diangkat Usmani) pengganti Ismâ`il yang dipecat Usmani.

Syiria dan Libanon

Penaklukan Suriah oleh Usmani (Salîm I pada 1516) tidak menghasilkan perubahan besar dalam kondisi administrasi dan popuasi internal negara itu. Pembagian wilayah-wilayah administrasi dan kelicikan dan penghianatan beberapa gubernur yang gila harta serta lemahnya Kontrol Usmani menjadikan kawasan ini mimpi buruk bagi rakyatnya. Pada periode 1517-1697 saja tidak kurang dari 133 pasya-pasya turki silih berganti dengan cepat untuk berkuasa di Damaskus. Rakyat seperti sekumpulan ternak yang diperas susunya dan diambil bulunya. Kebijakan terbaru atas rakyat yang diklafisikasikan ke dalam beberapa kelompok agama yang disebut millet menjadikan mereka sedikit rasa kebangsaannya. Orang Eropa yang tiggal di negeri itu juga diperlakukan sebagai millet, dan justru serta mendapat hak istimewa.

Selain sebagai peziarah, orang-orang Eropa datang ke Suriah sebagai pedagang. Pada abad pertama kekuasaan Usmani, Suriah mengembangkan perdagangan melalui darat melalui rute Aleppo yang menyambung dengan Irak, kemudian berakhir di Persia dan India. Beberapa koloni Eropa berkembang di Aleppo diantaranya orang Vanesha dan mereka bisa leluasa berdagang setelah Prancis mendapatkan Kapitulasi dari Sulayman pada 1535 dan Inggris pada 1580 serta perjanjian oleh Mahmud I dan Louis XV pada 1740. Perjanjian tersebut menetapkan bahwa semua pengunjung Kristen di kerajaan Usmani berada dibawah perlindungan Prancis.

Diantara para pedagang Eropa yang dating ke negeri itu untuk mencoba memenuhi kebutuhan barat terhadap berbagai barang kerajinan dan produk mewah dari timur tengah, terdapat sejumlah misionaris, guru, wisatawan dan pejelajah. Imbasnya, para misionaris Kristen pada abad 17 berhasil membangun gereja-gereja Uniat-Suriah (berbahasa Suriah pada upacaranya) dan gereja Yunan (berbahasa Yunani).

Di Libaon, setelah masa Salim (Usmani) memenangkan pertempuran antara Turki dan dan Mamluk di Suriah, para pejabat Libanon menghadap sultan dan memberikan orasi pujian, sehingga sultan memberi hak-hak istimewa seperti penguasa mereka terdahulu dan mengangkat fakhr al Din al Ma’ani sebagai raja dengan beban uperti lebih ringan. Perlu dicatat bahwa orang-orang Libanon adalah orang pegunungan kelompok Drusis dan Maroni yang keras yang harus diperlakukan lebih lembut dibanding Suriah. Wali turki di Suriah biasanya bertindak sebagai penghubung antara penguasa pusat Usmani dengan penguasa dan bangsawan feudal Libanon.

Di awal kekuasaanya, fakhr al Din al Ma’ani (1590-1635) membuka lebar-lebar bagi masuknya pengaruh budaya barat. Berlanjut di bawah kekuasaan Fakhr al Din II, kekuatan libanon mencapai kejayaannya. Dengan semangatnya secara terang-terangan mengemukakan ambisinya untuk memutuskan semua hubungan antara Libanon-Usmani dan meluaskan wilayah ke beberapa kawasan seperti Sanjaq, Tripoli, Balbak dan Bika. Bahkan pada 1608 ia melaksanakan kerjasama militer rahasia dengan Ferdinand (pangeran besar Medici. Tuscany) di seberang lautan yang secara langsung ditunjukan untuk menentang Usmani. Akan tetapi,pada 1613 pasukan turki dari Damaskus berhasil mengusir Fakhr al Din, keluarga dan pengikutnya keluar dari Libanon dan berlindung di Florence, Italia sebagai sekutunya saat itu.

Dengan keyakinan lebih besar, lima tahun berikutnya ia kembali untuk memperluas dan memodernisasi Libanon dan kembali diakui oleh Usmani sebagai penguasa Arabistan (1624) dengan wilayah dari Aleppo hingga perbatasan Mesir. Ia lagi-lagi mengimpor arsitek, insinyur dan ahli pertanian dari italia untuk mengelola alam Libanon. Lebih dari itu, ia menyambut baik para misionaris Kristen yang sebagian besar berasal dari Prancis. Mengaku sebagai Muslim dihadapan penguasa Usmani, sebagai penganut Drusisme dihadapan rakyatnya, Fakhr muncul dengan daya tarik bagi kalangan Kristen dan menjadikan mereka hidup berdampingan di libanon. Namun simpatinya terhadap orang-orang Eropa yang berlebihan memunculkan kecurigaan penguasa Usmani dan akhirnya ditangkap kemudian dipenggal di Konstantinopel pada februari 1635.

Dengan kemunduran kekuasaan, martabat dan wibawa Turki Usmani sepanjang abad 18 membuat kawasan Suriah dan Libanon menjadi lahan pertikaian, baik disebabkan ekpansi perluasan wilayah Mesir maupun konflik internal di Libanon yang berujung pembantaian besar-besaran yang konon diprovokatori oleh Usmani dengan tujuan sentralisasi. Pembantaian besar-besaran pada 1860 tersebut mengundang intervensi Eropa dan didudukinya Libanon oleh Perancis dengan penerapan undang-undang baru pada 1861 dan direvisi 3 tahun berikutnya dengan bunyi diperbolehkannya otonomi usmani ini dipempimpin oleh seorang gubernur jenderal Kristen yang diangkat 5 tahunan[13].

Irak

Tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di lembah sungai Nil, pasang surut kekuasaan Usmani di lembah sungai Eufrat dimulai pada 1534 dimana terjadi persaingan terjadi antara penguasaan pasya-pasya berkebangsaan Turki dan penguasa lokal. Terlebih, penguasanya korup dan rakyat menderita tanpa ada jaminan dan keadilan merambah. Disisi lain, secara khusus populasi Syiah berkembang yang mengakibatkan semakin sulitnya komunkasi Irak dengan Turki Usmani yang Sunni, sehingga kawasan ini kemudian dipersilisihkan antara Konstantinopel dan Persia.

Selain tempat ziarah bagi kaum Syiah (makam Husyain), Irak merupakan jalur bagi serangan Turki ke timur semenanjung Arab juga sebagai sambungan darat bagi para pedagang Eropa dari Aleppo. Serta, munculnya perusahan India Timur Inggris pada awal abad tujuh belas menempatkan Irak pada posisi strategis atas jalur darat antara Timur dan Barat. Jelang akhir abad tersebut, inggris memenangkan supremasi perdagangan maritim atas pesaingnya, Prancis dan Belanda di wilayah Teluk Persia[14].

Sepertii halnya penetrasi eropa di wilayah-wilayah Islam lain, kedekatan Inggris dan irak dimulai dari perdagangan yang kemudian merambah ke wilayah politik. Irak dengan pemimpinnya Raja faisal merupakan pendukung inggris yang loyal pada perang dunia I, terutama dalam menghadapi Turki Usmani sebagai sekutu Jerman saat itu. Namun, Irak sadar bahwa niat mereka memanfaatkan Inggris untuk melepaskan mereka dari cengkeraman Usmani justru menjadi bumerang atas intervensi dari Inggris terhadap sistem pemerintahan Irak.

Semenanjung Arab

Sebagai salah satu negeri administrasi Turki Usmani, Semenanjung Arab (Hijaz dan Nejed) merupakan wilayah yang sulit dijangkau oleh pusat pemerintahan, bisa dikatakan menjadi satu blok terpisah dari pergolakan perang Salib yang berkobar di kawasan Bulan Sabit Mesir, Afrika Utara dan Asia kecil. Walaupun Hijaz merupakan tempat lahirnya Islam dan memiliki posisi unik dalam hati dan pikiran umat Islam di seluruh dunia, akan tetapi pada saat itu, perang salib tidak ada kepentingan untuk menyentuh dan memperebutkan wilayah ini. Imbasnya, selain kesuciannya terjaga, isolasi geografis, dan sistem komunikasi yang ketinggalan zaman dan terasing dari ide-ide dan pengaruh barat.

Seperti halnya kawasan-kawasan lain yang telah dibahas sebelumya, pergolakan politik di kawasan ini juga masih seputar persaingan kewenangan otoritas penguasa Usmani dengan penguasa lokal. Di yaman misalnya, pada 1633, pemimpin negeri tersebut, yaitu Qasim berhasil mengusir wali (gubernur turki untuk yaman) dan membentuk sistem pemerintahan (imamah) pribumi hingga bertahan sampai 1871 dan sempat mengalami pergantian beberapa imam. Bagaimanapun, pada 1849, negeri ini kembali ke dalam sistem administrasi Turki hingga naiknya Imam Yahya pada 1904 yang pada tahun berikutnya mendirikan sebuah negara otono, dengan menjadikan Shana’a ibukota Negara. Akan tetapi, negara otononomi yang dibentuk tidak diakui Usmani. Hingga 1911, pada kenyataanya Turki sama sekali tidak menarik dri dari negra itu sampai perang dunia I terjadi[15].

Keterlibatan eropa dalam pemerintahan Yaman dimulai sejak di dudukinya Aden (Yaman selatan) 1822 dengan sebuah perjanjiian antara Inggris dan sultan Lahadj yang menjadikanya sebagai pangkalan dagang bagi kapal-kapal Inggris. Namun dalam kurun yang tak lama, pada 1839, Inggris memaksa pendudukan mereka yang lebih luas dengan kekerasan senjata dan membeli tanah seluas 35 mil persegi[16].

Adapun Oman dan beberapa negeri kawasan semenanjung arab lain seperti Qatar dan Bahrain yang dipimpin oleh syekh-syekh dibawah protektorat Kerajaan Inggris raya yang berlangsung hingga 1906. Sebelum dijajah oleh Portugis kemudian Inggris, kawasan ini selama satu abad terakhir bisa dikatakan tidak pernah dikuasai oleh Turki Usmani. Ikatan Inggris dengan negeri-negeri kawasan ini terbilang akrab, bahkan telah disepekati perjanjian umum tentang keamanan pada tahun 1820. Inggris berhasil menciptakan rasa aman bagi pesisir selatan yang sebelumnya menjadi kawasan rawan gangguan perompak[17].

Adapun Arab Hijaz yang sekarang menjadi Saudi Arabia mempunyai pergolakan yang paling menarik untuk didalami. Bisa dikatakan perkembangan Arab hijaz dimulai hingga munculnya Dinasti Muwahiddun (yang bertauhid) pada pertengahan abad 18. Kelompok pengusung (katanya) gerakan pembaharuan puritan yang dipimpin oleh Muhammad ibn Abd Wahhab (w.1792) (selanjutnya disebut sebagai paham wahabi) tersebut menanamkan pemikiran bahwa Islam yang dipraktekan oleh Muslim saat itu mengalami penyimpangan besar, jauh dari apa yang diajarkan oleh Muhammad dan al Quran. Kegigihan dan kemantapan dirinya untuk memurnikan dan menyelamatkan ajaran islam saat itu menjadikan Muhammad ibn Su`ud (1765) (penguasa Nejed) tertarik untuk menjadi sekutu dan mantunya. Persekutuan ini berhasil menyebarkan keyakinan beragama dan kekuasaan Ibn Su`ud meluas cepat menyebar ke seluruh jazirah arab.

Dengan dalih memerangi bid`ah dan kemusyrikan, golongan Wahabi meghancurkan makam-makam suci di Karbala (1801), Mekah dan Madinah (1803-1804) hingga melebar ke Suriah, Irak, bahkan Palmyra hingga Oman pada tahun tahun berikutnya. Mereka menganggap golongan selain mereka kafir dan menerjemahkan keberhasilan peluasan wilayah dan ajaran Wahhabi mereka pada saat itu sebagai tanda ketidaksenangan Tuhan akan bid`ah bid`ah yang dilakukan oleh Salim III (Penguasa Turki Usmani saat itu). Namun pada akhirnya pada 1811, wahhabi dan kekuasaan Ibn Su`ud dihancurkan sebagai pengianat Islam oleh pasukan Muhammad Ali dari Mesir atas perintah Porte Turki Usmani.

Hampir seabad golongan Wahabi dan kekuasaan Ibn Su`ud tenggelam oleh sejarah, hingga pada awal abad 20 dibangkitkan lagi oleh Abd Al Aziz ibn Suud. Berkat upaya yang dilakukan oleh keluarga rasyid di hâ`il dan keluarga Syarîf Husyain di Mekah, ia mendapatkan sebuah kerajaan bagi dirinya[18]. Pada tahun 1925, Abdul Aziz menyerang dan merebut kota Riyadh, Mekah dan Madinah dengan membunuh walinya (Gubernur Khilafah ar-Rasyid).

Pasukan Aziz terus melakukan penaklukan dan membunuh pendukung Turki Usmani dengan bantuan Inggris. Bentuk bantuan Inggris tidak hanya dimulai dari sini, aksi golongan wahabi dan kekuasaan ibn Su`ud terdahulu tidak akan berhasil jika tanpa dukungan Inggris yang memberikan bantuan persenjataan militer dan pelatihan bagi tentara-tentara orang badui yang mereka siapkan[19]. Pada 1932 ia mendirikan kerajaan Saudi Arabia berikut dinasti keluarga dengan dirinya sendiri sebagai raja.

III. Pemikiran Pembaharuan Islam dan Berdirinya Negara Bangsa

Sebelum membahas lebih jauh tentang pembaharuan pemikiran Islam dan Berdirinya Negara bangsa, ada baiknya kita simpulkan beberapa faktor keruntuhan Dunia Islam dibaca dari kacamata sejarah yang telah dipaparkan di atas. Sebagai berikut:

  1. Faktor Sektarianisme antara Sunni vs Syiah sebagai perpanjangan konflik berdarah antara Muawwiyah dan Ali serta keluarga nabi. Konflik ini seakan diperpanjang pada masa Dinasti Usmaniyah dan Dinasti Safawi yang menjadikan perpecahan dan tawar menawar politik di semenanjung Arab bagian utara yang meliputi Iran, Irak dan Suriah.
  2. Dinasti Usmani setelah era al Qanuni lebih disibukkan dengan peperangan mempertahankan daerah yang telah dikuasai sebelumnya, sehingga umat muslim, utamanya di walayah-walayah yang jauh dari penguasa tak terurusi. Keadaan ini menjadikan redupnya masa keemasan Islam menjadi masa kegelapan dengan tiadanya perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perekonomian. Sementara di sisi lain, Eropa pada masa yang bersamaan mengalami masa pencerahan (renansiance) dengan lepasnya mereka dari dogma Gereja dan melakukan revolusi ilmu pengetahuan dan industri.
  3. Ketidakmampuan sultan dalam mengemban tugas membawa kerajaan pada konflik internal yang memperebutkan jabatan sultan sebagai sebab persaingan elite politik untuk mempertahankan kepentingan masing-masing. Yang paling mencolok perebutan kekuasaan antara 4 putra Sultan Ahmad I, yaitu mushtafa I, Usman II, Murad IV dan Ibrahim I. Bahkan pernah terjadi kesultanan peremuan pada masa kekuasaan Turkhan.
  4. Pemerintahan korup di “walayah-walayah”, baik oleh penguasa yang diutus oleh Usmani maupun penguasa-penguasa lokal menjadikan rakyat sebagai korban dengan adanya pajak yang tinggi. Keadaan ini memunculkan tokoh-tokoh pribumi yang mulai gerah dan memberontak.
  5. Populasi heterogen antara kelompok dan ras yang berbeda beda, antara Muslim dengan Kristen, bahkan antara Muslim turki dan Muslim arab dan antara sekte Kristen satu dengan sekte Kristen lain yang kesemuanya diatur dengan sistem millet akhirnya menjadi bumerang dan melemahkan kerajaan.
  6. Turki Usmani sebagai pusat pemerintahan dunia Islam saat itu menghadapi serangan dari musuh-musuhnya; Austria
  7. (1592) dan Rusia-The Holy League (1687) yang keduanya mejadikan kekalahan dipihak Turki Usmani. Di masa yang lebih dekat, Keterlibatan Turki dalam perang dunia I dan bersekutu dengan Jerman semakin memperpuruk keadaan kerajaan yang pada saat itu masih mempresentasikan kekuatan dunia Islam.
  8. Pengadopsian sistem dan kebudayaan Eropa dengan simbol pencerahan “renansiance”nya. Pengadopsian bertajuk kemodernan ini justru menjadi bumerang, karena bukan semakin membaik, namun semakin memperpuruk dan memecah belah dunia Islam. Perlu dicatat bahwa masa keemasan Islam justru ketika sistem pemerintahan Islam dilaksanakan secara benar seperti yang dilakukan oleh Sulaiman al Qanuni, bukan memisahkannya.
  9. Pembentukan atau pemecahan wilayah Turki Usmani yang pada awalnya bertujuan untuk mempermudah kontrol kawasan dengan gubernur/sultan/raja yang diangkat dan mendapat mandat resmi dari porte Turki Usmani justru membentuk sistem baru “Negara bangsa” dan berusaha memisahkan diri secara mandiri dari pemerintahan Usmani.
  10. Kolonialisme Eropa dengan misi perdagangan dan pencerahan melalui teknologi dan ilmu pengetahuan bagi wilayah-wilayah islam yang “terbelakang” yang ghaus akan kemajuan yang didambakan. Secara tidak disadari bangsa-bangsa Eropa berhasil mempengaruhi pola pikir penguasa lokal akan pentingnya perubahan dan kebangkitan, sehingga di setiap aksi pemberontakan di wilayah-wilayah Islam dipromotori oleh Eropa, baik secara pemikiran maupun militernya. Pada akhirnya, intervensi bahkan dominasi Eropa berhasil mempengaruhi politik pemerintah lokal wilayah-wilayah administrasi Turki Usmani.

Pembaharuan Pemikiran Dunia Islam

Dengan beberapa faktor beserta imbasnya bagi keterpurkan dunia Islam di atas, hujan kritik deras dilancarkan oleh para umat Islam sendiri dan non Islam (Eropa) sebagai penjajah. Hantaman terhadap kebijakan kebihakan rezim saat itu dan konsep politik Islam klasik seperti konsep Negara Islam (daulah islamiyah), khilafah dll, menjadi bahan kritikan dan “kecaman” dari berbagai pihak yang mendambakan pembaharuan seperti al-Suyuyhi, Syakhawi, Dardiri, Jamaluddin al Afghani dan Muhammad Abduh.

Telaah jalaluddin al Suyuthi (1445-1505) dan Shams al-Din Muhammad ibn `Abd al-Rahman al-Sakhawi (1428-1497) keduanya cendikiawan dari Cairo sama-sama menyatakan bahwa munculnya konsep khilafah (dinasti) merupakan “kesalahan sejarah” yang dengan “tololnya” terus diabadikan dan terus berlanjut sampai Negara-negara yang menyatu dalam “Negara islam” yang diusung oleh dinasti-dinasti (usmani dan safawi) pecah berantakan dan satu persatu disergap dan dijadikan makanan empuk atau santapan lezat binatang-binatang buas, yaitu negara eropa dengan cara mengakali, mengintervensi dan kemudian menjajah.[20]

Rif`at Thahthawi (1801-1873) yang lahir dalam kondisi mesir yang tak menenentu di bawah perebutan kekuasaan penguasa lokal dan penjajah eropa dan pernah menjadi pemimpin pelajar yang dikirim ke Paris saat itu mempunyai gagasan yang hampir sama dalam mengrkritik rezim Usmaniyah. Menurutnya, konsep politik yang diterapkan oleh dinasti Usmani sangat bertentangan dengan konsep Islam. Pengesahan beberapa undang-undang yan dinilai bertetangan dengan nilai politik Islam banyak terjadi, padahal rezim ini menamakan dirinya dengan Negara Islam. Menurutnya kondisi politik dinasti Usmani pada masa kolonial saat ini memicu terjadinhya primordialisme yang berujung pada terpecahnya dinasti menjadi beberapa negara kecil.

Pemikir Rif`at ini mendapat sambutan hangat dari generasi pembaharu selanjutnya yaitu jamaluddin al Afghani yang hidup pada masa Muhammad Ali Pasya. Ide perubahan yang digagasnya adalah penggantian sistem pemeritah yang berakar dari Syuro menjadi hukum perundang-udang justru menjadi sebab diportasinya dari Mesir ke Perancis, karena dinilai telah memotori gerakan gerakan separatis masyrakat yang muncul akibat kekuasaan tirani dinasti Usmani tersebut. Al Afghani melemparkan kritikan-kritikan mautnya yang menghantam rezim melalui majalah al `urwah al Wutswa beserta konsep baru yang mencerahkan.

Perjuangan Afghani kemudian diteruskan oleh tokoh reformis lainnya, salah satunya Muhammad Abduh (1849-1905). Berbeda dengan pendahulunya, Abduh tidak terjun ke politik praktis secara langsung. Salah satu konsep yang diusung olehnya adalah bagaimana mengemas politik Islam supaya sesuai dengan konsep perwujudan nilai masyarakat madani (civil society). Abduh mengklasifikasikan perundangan-undangan menjadi dua, antara undang-udang sosial dan perundang-udangan politik. Pada perundangan politik, menurutnya ada tiga elemen yang wajib ada yaitu perangkat legislatif (wakil rakyat), eksekutif (pemerintah) dan yudikatif (perangkat hukum) [21].

Muhammad Husain Haekal (1888) dan pemikir semasanya seperti Ali Abdurraziq dan Thaha Husain menempatkan kebudayaan barat sebagai salah satu ikon dari lahirnya pembaharuan dunia Islam.

Meramaikan ide-ide dan kontribusi pembaharuan dunia Islam, di belahan Arab yang lain, tepatnya di semenajung Arab berkembang paham wahabisme oleh Abdulullah ibn Wahab yang disokong oleh kekuatan penguasa Nejed yaitu Ibn Su`ud yang juga dipengaruhi oleh pemerintah Inggris. Berbeda dengan ide-ide para pemikir saat itu, Wahabi menyuarakan pembaharuannya dunia Islam berdasar pemurnian teologi Islam yang kembali pada al Qur`an dan Sunah. Yang mencengangkan, mereka memaksakan paham pembaruan secara radaikal dengan memerangi dan membunuh siapa saja yang tak sepaham. Wahabi mengecam pemerintah Usmani yang melepas agama dari wilayah pemerintahan dengan dalih pembaharuan[22].

Nasionalisme Arab

Seperti yang disampaikan di atas, Pembagian wilayah administrasi Usmani menjadi beberapa beberapa “walayah” dengan kontrol minim dan masuknya intervensi oleh kolonialisme Eropa semakin memperjauh jarak antara pemerintahan pusat dunia islam di Konstantinopel dan penguasa lokal. Ide-ide pembaruan yang lahir di berbagai wilayah seperti Mesir lahir dari pemikiran-pemikiran pembaharuan barat. Tokoh-tokoh pembaharu yang sebagian besar pernah belajar dan tinggal di Eropa menyuarakan bahwa keterpemimpinan dunia Islam dibawah Usmani kedinastian tidak cocok lagi. Selanjutnya mereka menawarkan ide Negara madani atau Negara agama dengan paham nasionalisme sebagai penggantinya.

Gerakan nasionalisme yang dikumandangkan oleh para pembaharu menuntut kebebasan dan keadilan dari belenggu penguasa usmani dan kolonialisme eropa. Di Mesir misalnya, Afghani mengkritik pedas penguasa Mesir yang membiarkan begitu saja bangsa asing (baca:Eropa) dalam mencampuri atau mengintervensi urusan dalam negerinya. Nasionalisme di negeri-negeri Islam terinspirasi oleh pemikiran nasionalisme Eropa yang kemudian distimulus oleh lembaga tanzimat yang didirikan oleh Turki Usmani (1916). Tanzimat sendiri merupakan lembaga-lembaga (LSM) yang berupaya menumbuhkan kesadaran akan jati diri bangsa[23]. Bahkan bisa dikatakan bahwa kebangkitan nasionalisme, sistem Negara arab modern dan gerakan nasional arab berasal adari Usmani pada abad 19 atas pengaruh pembaruan yang mereka inginkan untuk membangkitkan keterpurakan pada abad-abad terakhir keberlangsungan dinasti mereka.

Pergeseran paradigma dalam perjuangan nasionalisme arab terjadi setelah berakhirnya perang dunia I dan dibubarkannya dinasti keislaman Usmani pada 1924. Gerakan yang pada awalnya berkiblat ke Eropa berbalik haluan menjadi pembebasan dari Eropa. Ide nasionalisme Arab yang salah satunya dipopulerkan oleh Sati`I al Husri (1882-1968). Dalam pandangannya nasionalisme arab dibentuk atas paham arabisasi dirasa menjadi model yang paling mampu membawa bendera kemanan dan keselamatan. Pandangan ini bisa diterima oleh komunitas manapun baik kalangan arab atau non arab, muslim atau non muslim. Di lain pihak gerakan gerakan yang ada tidak semua dalam format Islam, melainkan ada unsure lain yang berbau non Islam sebagai pendukung, salah satunya kelompok Kristen Koptik yang menyebar di sepanjang Mesir hingga Syiria)[24] .

Lahirnya Negara bangsa Merdeka

Ide-ide pembaruan yang disampaikan oleh para cendikia pembaharu Arab mampu mengobarkan semangat nasionalisme bangsa arab. Berbagai perlawanan dalam bentuk kritik reformasi dan revolusi berkobar di berbagai wilayah. Di Mesir, setelah berbagai perlawanan terhadap kolonialisme Inggris pada akhir abad 19, akhirnya dinyatakan merdeka dengan sistem kerjaan oleh protektoratnya inggris dengan Fuad sebagai rajanya dan melakukan sebuah konstitusi pada 1922. Ketidakpuasan terhadap Pemerintahan monarki fuad dan diteruskan kepada anaknya farouq yang dinilai sebagai perpanjangan penguasa-penguasa lokal Usmani sebelumnya mengakibatnya terjadinya revolusi tanpa darah oleh Kup militer yang dipimpin oleh kolonel Gamal Abd al Nasher pada 1952. Pada 1954 sistem pemerintahan monarki dihapuskan dan digantikan dengan Negara republik dan gamal Abd Nasher sebagai Presidennya.

Sebelum berangkat lebih jauh, perang dunia I diakhiri denga perjanjian liga bangsa-bangsa (Versailles) pada 1919 yang tujuan besarnya dimaksudkan untuk menengahi konflik-konflik internasional dan dengan ini mencegah perang di masa depan. Salah satu pasal dari perjanjian ini adalah pemberian mandat kepada Negara-negara anggotanya untuk mengawal Negara-negara yang pernah diduduki hingga memiliki kemerdekaan secara penuh dalam bentuk nasihat dan bantuan. Namun yang terjadi justru mandate mandate kekuaaan tersebut menjadi bentuk intervensi politik. Inggris mendapatkan mandate kekuasaan atas Palestina dan Irak sedangkan Suriah dan Libanon dikuasai oleh Perancis [25]..

Di Irak, pemberontakan pada 1920 oleh suku-suku di dataran rendah eufrat, Najaf dan karbala memaksa inggris untuk meberikan kekuasaan protektorat kepada irak dengan mengangkat raja Faishal, anak kedua raja Husyain. Seperti halnya di Mesir, rezim monarki Irak dengan rajanya Faishal II digusur oleh kup militer pada 1958. Sejak saat itu, sistem monarki dihapus dan digantikan dengan sebuah republic Sosialis dengan perdana menteri pertamanya Abdul Karim Qasim dan presidenya Muhammad Najib ar-Ruba'I yang keduanya merupakan pemimpin peristiwa kudeta militer tersebut[26].

Pemberontakan terhadap Perancis yang memerintah sewenang wenang pecah di jabal Duruz pada 1925 dan segera menyebar ke damaskus dan kota-kota sekitarnya. Klikamaksnya dengan ditariknya pasukan Prancis pada 1945 dari Suriah.

Yang menarik justru terjadi di Negara tetangganya Libanon. Dalam pergolakan oleh intervensi Prancis membetuk satu tradisi unik yaitu Presiden harus orang Katolik Maronit dan perdana menterinya orang Muslim Sunni tujuannya agar ada keseimbangan diantara dua kelompok mayoritas Lebanon. Pada perkembangan selanjutnya muncul kelompok yang menentang dan menuntut dihapuskannya pemerintahan mandat[27]. Di tahun yang sama ditariknya pasukan Prancis dari Suriah, di Libanon-pun demikian.

Adapun kawasan di pesisir semenanjung arab seperti oman, Qatar, Bahrain dan Kuwait yang jauh-jauh telah menandatangai perjanjian keamanan atas syekh-syek penguasa dengan Inggris yang dipertegas dengan perjanjian sejak 1820, kemudian 1930. Pada akhirnya Inggris menarik pasukannya pada 1968 dari teluk Persia. Kemudian perwakilan Bahrain, Qatar dan dan tujuh negar kecil mulai merencanakan pembuatan federasi emirat emirat Arab. Kuwait yang sebelumnya menjadi daerah perwalian otonom menjadi emirat merdeka pada tahun 1961. Begitu juga daerah portektorat Aden mendepat kemerdekaan penuh pada 1967 dan kemudian membentuk Republik yaman Selatan[28].

Di Saudi Arabia, golongan wahabi yang dibangkitkan oleh Abd Aziz ibn Suud berikut dinasti Suudinya membentuk kerjaan Saudi Arabia pada 1932. Perebutan kekuasaan sekaligus pembunuhan terhadap raja rasyid (penguasa Hijaz saat itu) menjadi awal dari sejarah Saudi Arabia modern. Selain mentakan gerakan-gerakan kesukuan sebagai gerakan illegal, ia mengatur biaya transport ibadah haji sebagai seumber pendapatan kerajaan. Berbeda dengan wilayah-wilayah Islam lain, Saudi Arabia yang hingga saat ini masih kokoh, dalam masa pembaharuan modernnya “tanda kutip” tidak pernah terlibat pertikaian dengan Negara asing non arab bahkan menjadi sekutu akrab dalam menstimulus roda pemerintahan kerjaan hingga saat ini.

 

 


[1] Philip K. Hitti. History of the Arabs. Serambi. Jakarta. 2010. Hal. 811

[2] Dr. Th. Van Den End, Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam, Jakarta. Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Hal. 83

[3] Dr. Amany Lubis, et. al., sejarah Peradaban Islam, Jakarta. UIN Jakarta. 2005. Hal. 193

[4] Ibid. Hal. 309

[5] Ibid. Hal. 314-315

[6] Ibid. Hal. 914-915

[7] Nana Supriatna. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas VIII. Grafindo Media Pratama. Jakarta. 2006. Hal. 89

[8] Mundji Sutrisno, dkk, Hermeunetika Pasca Kolonial: soal identitas. Kanisus (IKAPI). Jakarta. 2004. Hal. 9-10

[9] Nana Supriatna, Sejarah untuk kelas XI. Grafindo Media Utama. Jakarta. 2006. Hal. 77-78.

[10] Philip K. Hitti. Opcit. Hal. 914-917

[11] Ibid. Hal. 924-928

[12] Ibid. hal. 955

[13] Ibid Hal. 929-942

[14] Ibid hal. 933-944

[15] Ibid. 945-946

[16] Yayasan Dana Franklin Jakarta, Ensiklopedi Umum. Kanisius (IKAPI). Yogyakarta. 1977. Hal. 1182

[17] Philip K. Hitti, Opcit. hal. 947

[18] Ibid. hal. 949

[19] Syaikh Idarham. Sejarah Berdarah sekte Salafi wahabi. Pustaka Pesantren. Yogyakarta. 2010 hal. 120-128

[20] Mukti Ali, dkk. Aufklarung Islam. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Cairo. Cairo. 2007. Hal. 112

[21] Ibid. hal 113

[22] Ibid. Hal128-134

[23] Ibid. hal. 147-150

[24] Ibid. 152-153.

[25] Philip K. Hitti. Opcit. Hal. 962-963

[26] Ibid. hal. 964

[27] Budi Mulyana. Sejarah Suriah dan Libanon. http://hbmulyana.wordpress.com/2008/02/19/sejarah-mengenai-suriah-dan-lebanon/. 19 Februari 2008

[28] Philip K. Hitti, Opcit. hal. 949-950

اتصل بي

Email : me@mjamzuri.com
  : mjinstitute@gmail.com
  : mjamzuri@waag-azhar.or.id
Phone : 081585993344
  : 085286363344